IDENTITAS BUKU
JUDUL: Cara Gampang Menjadi Wartawan "Dilengkapi dengan Tips Mengirim Naskah ke Media Massa.
PENULIS: Endro S. Efendi, beliau lahir di Surabaya, 18 April 197. Dengan diawali menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Dinding Aksi Smanda di SMA Negeri 2 Berau, serta Magang di Surat Kabar Harian (SKH) Manuntung (Kaltim Pos) Perwakilan Kabupaten Berau. Kettika SMA, mengikuti Program Pendidikan Wartan Jarak Jauh yang di selenggarakan PPWI Cakrajaya di Cepu, Jwa Tengah dan mengantarkannya sebagai Koresponden Majalah Cakrawala Jawa Tengah untuk Wilayah Kalimantan Timur.
Ketika Kuliah, beliau mendirikan Kelompok Jurnalis Mahasiswa dan MAgang di Kaltim Post. Pada smester IV, beliau diterima sebagai Wartawan SKH Kaltim Post hingga sekarang. Dan saat ini menjabat sebagai sebagai Redaktur utama dan sempat merangkap sebagai sekretariat Kaltim Post. Selain itu juga pernah menjadi Organisiatoris Latihan Jurnalistik Kaltim Pos (LIKP), wadah pendidikan untuk mencetak wartawan baru. Saat buku beliau ini ditulis, dipercaya sebagai manajemen Kaltim Post Group menjadi General Manager Berau Post, surat harian ana perusahaan Kaltim Post yang terbit di Kabupaten Berau, Kaltim.
Pernah tercatat sebagai Ketua Forum Media Massa (FBBM) Kalimantan Timur dan Ketua Forum Penulis Ekonomi Moneter Indonesia (PWI) Cabang Kalimantan Timur. Terbaru, beliau dipercaya sebagai Ketua PWI cabang Kabupaten Berau.
Disela kesibukannya, beliau kerap menjadi pembicara dipelatihan wartawan dan jurnalistik di sekolah maupun dikampus.
PENYUNTING: Siti Rochani
TATA LETAK: Ermawan TS
DESAIN SAMPUL: Sholeh BY
PENERBIT: Kalika Utama Publishing, Sambirejo Rt/Rw 03/47 Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta. Email: kalikasleman@gmail.com/ HP; 085328086510. Cetakan Pertama: Agustus 2014. 140 halaman/ ISBN: 978-979-9420-37-5
DISTRIBUTOR: CV. Diandra Primamitra Media. Jl. Melati No. 171 Sambiledi Baru Kidul, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Telp/Fax: 0274-485-222
SINOPSIS:
Dalam sinopis buku ini, beliau mengambil dari beberapa penulis-penulis hebat yang telah melanglang buana dalam perkenalan dengan duni tulis menuli, diantaranya:
Dahlan Iskan, ketika itu masih menjabat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara. Terkenal dengan jargon-jargon beliau dan celotehannya. Juga sebagai pemilik Jawa Pos Grup.
"Beliau memberikan apresiasi terhdapa buku ini, membedakan karakteristik seorang wartawan saat ini dengan zaman dahulu ketika beliau masih menjadi penulis dimasanya. Wartawan pada saat ini sudah enak sekali, berbeda dengan pada masanya dulu, intinya wartawan saat ini mesti lebih berkualitas. Tekhnologi juga sangat membantu untuk memudahkan kerja seorang wartawan, sehingga lebih mudah mengirim dan mengakses berita. Beliau memberikan selamat kepada Penulis atas penertbitan bukunya.
Inni Indarpuri, seorang PNS dan penulis di berbagai Media Massa. Walaupun saya sebagai reviewer tidak mengetahui persis seorang Inni Indarpuri, tapi saya yakin dia adalah orang yang sangat berpotensi dan memiliki nama didunia tulis menulis, tidak mungkin seorang yang tidak mengenal dunia ini menjadi sinopsis buku Endro S. Efendi.
"Beliau hanya memberika penjelasan yang ada didalam buku ini, pengalaman seorang penulis yang memiliki cita-cita dari kecil unutk menjadi seorang pwartawan, pengalaman jurnalistik penulis yang padat hingga kesuksesan penulis menjadi orang terpenting di satu media massa Provinsi"
REVIEW
Dengan melihat judul bukunya sudah sangat mudah ditebak apa isi buku yang ditulis oleh penulis. Iya, buku ini menjelaskan lika-liku untuk menjadi seorang wartawan yang baik. Kenapa saya bilang baik? Karena banyak sekali wartawan yang hanya muncul ketika ada urusan saja, ketika ingin mensukseskan satu pihak dalam kompetisi politik atau ranah masyarakat biasa.
Dari judulnya adalah cara gampang. Gampang tapi tidak instan se-instan Indomie goreng pedas yang iklannya dapat mengalahkan waktu tayang FTV di salah satu stasiun TV swasta.
Dalam buku ini, penulis menjelaskan dengan panjang lebar cara-cara yang mendasar untuk menjadi seorang wartawan yang sukses, bukan menjadi wartawan abal-abal.
Ada beberapa belasan point penting yang dikemukakan penulis dalam buku ini, saya sebagai review akan menjelaskan garis-garis umum dalam point-point penulis:
1. Sulitnya Mencari Wartawan yang Berkompeten.
Diawal adalah sesi curhat seorang penulis yang telah lama melanglang buana dipenjuru desa-desa untuk mencari para wartawan yang memiliki kualitas dan daya juang yang hebat. Sulitnya tenaga wartawa yang kualitasnya tinggi, wartawan bsangat banyak tapi yang memiliki dedikasi tinggi dalam bidang wartawan masih terhitung jari sampai jari manis. Tidak dengan mudah untuk menghasilakn seorang wartawan yang mumpuni.
Pendapat penulis, wartawan tidak masuk dalam hitungan sebagai salah satu pekerjaan yang diminati warga di bumi pertiwi yang katanya makmur ini. Intinya belum menjadi prioritas utama dalam bidang masa depan, kurang lebih begitu.
Penulis juga berpendapat sistem pendidikan yang bertele-tele, saya sangat mendukung dengan pendapat penulis. Banyak sekali liak-liuknya, teori-teori yang menumpuk seakan membuat rasa malas dalam mempraktekkan. Penuh dengan teori tapi prakteknya dilapangan tidak ada, padahal lapangan dan teori bisa berjauh beda dengan fakta-fakta yang ada dilapangan.
Penulis juga selain berpendapat penuhnya teori-teori, Dosen yang kurang berpengalaman di era modern. Mereka masih menerapkan pengalaman di era ketika mereka masih menjadi anak muda yang kreatif, iya ada benarnya juga, tapi harus diimbangi dengan masa sekarang karena kita hidup untuk besok yang terus-menerus menjadi modern bukan malah kembali kemasa lalu.
Padahal, poin utamanya adalah latar belakang apapun bisa menjadi wartawa, yang penting ada kemauan. Kalau sudah ada kemauan, tentu akan ada usaha untuk menjadi wartawan yang baik.
2. Wartwan Otak Kanan.
Ada dua tipe otak yang harus digunakan seorang wartawan, otak kanan dan otak kiri. Sudah pasti berbeda kenierja kedua otak tersebut, saya juga baru tahu ketika membaca buku ini. Dalam dunia kewartawanan otak kananlah yang seharusnya selalu diandalkan. Otak kanan selalu mengajarkan kita untuk selalu mencari jalan kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun. Seperti "Tidak Mau Pulang Sebelum Narasumber Muncul" Dari kreatif, optimistis, keberanian, mencari cela, menghadapi tantangan, bahkan bertaruh nyawa sekalipun, weleh.
Intinya memiliki banyak ide "Banyak jalan menuju Narasumber, eh Roma ding". Berbeda dengan otak kiri, yang selalu menyepelekan hal-hal kecil, ibaratnya pesimis dan selalu negatif saja, intinya malas mencari jalan keluar, dan itu bukan dari karakteristik seorang wartawan sejati. Coba lihat kasus gayus tambunan yang ketahuan bertamasya ke Bali, Anggota DPR yang dibilang taman kanak-kanak oleh Alm. Gus Dur ternyata ada satu anggota yang ketahuan membuka foto-foto porno saat mengikuti sidang, gendeng. Itu semua hanya dimiliki oleh wartawan yang memiliki daya juang tinggi dengan selalu menggunakan otak kanannya untuk berfikir dan mencari solusi. Untuk saat ini, masih sangat sulit memiliki wartawan yang memiliki daya juang tinggi.
3. Selera Humor
Sangat banyak manfaat dari tertawa diantaranya memberikan kekebalan tubuh, melancarkan peredaran darah. Tertawa juga berhubungan dengan imajinasi, dengan tertawa ide-ide kreatif akan dengan sangat mudah muncul. Dalam dunia wartawan, sangat disarankan agar selalu ceria. Pekerjaan seorang wartawan adalah 24 jam penuh, bahkan jika ada waktu satu jam lagi maka akan terpakai juga. Setiap waktu adalah pekerjaan. Dengan waktu seperti itu, jika dilakukan dengan otak kiri akan berujung dengan stres tingkat tinggi dan menghasilkan surat risgn dimeja redaktur.
Berbeda dengan kantor yang hanya bekerja ketika jam kantor saja, dengan tertawa juga maka semuanya akan berjalan lancar. Coba bayangkan, seorang bankir (yang kerja dibank) mereka selalu menggunakan otak kirinya untuk mengerjakan pekerjaannya, karena mereka butuh fokus menghitung ataupun mendata pemasukan dan pengeularan.
Jika mereka melakukan dengan otak kanan maka semuanya akan hancur, ujung-ujungnya akan dipecat karena salah dalam menghitung uang diakibatkan selera humornya yang tinggi. Sejatinya otak kiri menyukai ketenangan dan konsentrasi. Bagi orang yang berotak kiri humor atau gurauan hanya akan menyita waktu mereka. Jadi, sekarang pilihan ada ditangan anda, mau menikah dengan Bankir atau Wartawan? #eh
Jika mereka melakukan dengan otak kanan maka semuanya akan hancur, ujung-ujungnya akan dipecat karena salah dalam menghitung uang diakibatkan selera humornya yang tinggi. Sejatinya otak kiri menyukai ketenangan dan konsentrasi. Bagi orang yang berotak kiri humor atau gurauan hanya akan menyita waktu mereka. Jadi, sekarang pilihan ada ditangan anda, mau menikah dengan Bankir atau Wartawan? #eh
Contohnya, penulis mengadakan pelatihan Jurnalistik pasti dibumbui dengan selera humor, dengan itu banyak siswa atau mahasiswa yang senang dengan dunia Jurnalistik. Coba dilakukan dengan cara seperti dosen menerankan kaidah-kaidah Jurnalistik yang njlimet, yakinlah, besok-besok tidak ada yang akan mengundang lagi.
Cerpen Mengarang dan Es Krim, keren sekali.
4. Unik dan Beda.
Mungkin yang biasa-biasa saja untuk saat ini bagi masyarakat sudah sangat membosankan, sudah terlalu lama kita menikmati yang biasa-biasa saja. Unik dan Beda sangat memiliki karakteristik tersendiri. Wartawan bukan hanya harus selalu menuangkan tulisannya secara serius. Humor, unik dan berbeda dari yang lain harus dimiliki. Seorang wartawan harus memiliki karakteristik tersendiri, agar terkenang oleh pembacanya. Oh, si A begini, si B begini dan seterusnya.
Lihat saja iklan-iklan saat ini, sangat kreatif menjadikan tayangan iklan-iklan kreatif, unik dan berbeda sangat dibutuhkan msyarakat. Coba lihat saat ini iklan-iklan di TV, bedakan dengan iklan-iklan zaman bahula, pasti berbeda.
Dengan itu apakah wartawan harus nyambi jadi pelawak? jawaban penulis Iya. Penulis mencontohkan tayangan Kick Andy yang sudah lama mencokol di Metro TV, Sentilan Sentilun. Kreatif, unik, humor, beda tetapi mengkritik.
Wartawan juga tidak diharamkan menambahkan nilai humor dalam tulisannya. Dahlan Iskan, bagi yang sering membaca tulisan beliau pasti sangat identik dengan humor. Dengan humor yang ada dalam tulisan membuatnya unik dan beda, berujung akan dengan sangat mudah menyukai karakteristik seperti itu. Beliau pernah menuliskan ketika dalam perjalanan dan sedang memakan singkong dengan sambal yang nikmat, tiba-tiba sambal itu tumpah dan mengenai celana sampai menusuk kedalam. Bagaimana reaksi seorang yang membaca tulisan itu "sambal tumpah dan mengenai perkakas penting".
Inti dalam tulisan ataupun berita walaupun dibumbui dengan selera humor, unik dan kreatif adalah adanya 5 W 1 H, karena itu kunci utama dalam sebuah berita ataupun tulisan.
5. Enam Syarat Wartawan
Ada Polisi, Tentara, Pejabat gadungan, begitupula Wartawan Gadungan atau biasa disebut Wartawan Bodreks. Karena itu penulis memberikan beberapa syarat untuk mereka yang baru akan memulai terjun menjadi seorang wartawan yang profesional dan independen.
Pertama, Fokus Terhadap Profesi. Wartawan adalah profesi maka dari itu harus terfokus. Diluar sana banyak wartawan yang nyambi menjadi pekerja luar, pengurus LSM bahkan Kontraktor. Dengan bermodalkan ID Cards, mereka bisa saja menjadi hantu yang selalu gentayangan, pemerasan terjadi sana sini. Alih-alih, wartawan banyak dianggap sinis oleh masyarakat karena kelauan seperti itu, berebut kue proyek. Boro-bor meningkatkan potensi, bisa menuliskan 5W1H sudah untung.
Kedua, Berusaha Berbeda. Sekarang zamannya sudah sangat berkembang, masyarakatpun sudah bisa memilih mana berita yang unik dan kreatif, mana berita yang biasa-biasa saja. Media cetak untuk menyaingi media TV sangat sulit jika tidak diimbangi dengan kreatifitas yang tinggi. jika ada satu berita, kebanyakan semua wartawan dari berbagai media hampir menuliskan dengan judul dan isi yang sama. Untuk mencuri perhatian masyarakat, syaratnya dalah menyuguhinya dnegan sesuatu yang berbeda dari wartawan lainnya.
Ketiga, Selalu Memunculkan Gagagasan Baru. Wartawan atau media yang bisa dijadikan satu rujukan oleh media-media yang lain adalah wartawan yang selalu memiliki gagasan yang baru. Itu adalah wartawan yang bisa diacungi jempol.
Keempat, Relasi. Relasi sangatlah penting dengan seorang wartawan, dengan relasi wartawan dapat mengumpulkan segala macam informasi. Terkendala bagi mereka wartawan baru yang selalu malu bertemu narasumber, takut tidak diterimalah, tidak dianggaplah, takut dicuekin lah. Itu adalah karakateristik dari otak kiri. Marilah untuk mengubah mindset seperti itu. Bagaimana mungkin menyerah sebelum berperang.
bersambung
Tulisan review buku ini belum sepenuhnya selelsai dalam penggarapan. Masih banyak yang harus ditulis. Bagi yang menginginkan bukunya bisa hubungi bangnoeDOTcom, ane punya dua buku. Kalau mau, ane kasih gretong

Mantap gan....
ReplyDeleteSiip gan
Delete