Skip to main content

Sahabat, Tuhan Lebih Sayang Kepadamu.


"Sahabat, kamu adalah lentera jalan yang melengkapi setiap perjalananku"

Di tahun 2001, ada siswa baru masuk kekelas kami. Dia melengkapi meja yang telah kosong dideretan tengah. Jika dijelaskan dengan jelas, dia masih ikatan keluarga. Wajar saja, kelas ini di isi oleh sahabat sepermainan dari kecil. Kami hanya ber enam waktu itu dan ditambah dengan kedatangan satu murid baru. Tak ada siswa selain dari desa kami. Kampung damai kecil dipesisir pantai.

Namanya Nur Safaria Zirun, kami semua memanggilnya Zia. Alasan anak itu masuk dikelas kami karena baru saja pindah dari sekolahnya diseberang pulau sana. Mulai dari main bareng, canda bareng. Kebersamaan kami mulai terbangun dengan rapih selama setahun. Tak sampai lulus bersama kami, hanya setahun dia mengenyam kebersamaan bersama kami, entah dia melanjutkan sekolah dikota mana, tak ada kabarpun. Bak hilang ditelan waktu.

Aku dan yang lainnya tetap satu sekolah didesa yang sama, sekolah dikota waktu itu hanya bagi mereka yang ekonominya mampu. Anak seperti kami untuk mengenyam sekolah dikota sepertinya hanya mimpi semata.

Setelah beberapa tahun berlalu, kami semua menentukan masa depan masing-masing. Aku menempuh pendidikan bangku kuliah di kota Istimewa, kami semuanya berpisah. Kenangan masa lalu tak akan pernah terlupakan.

***

Kurang lebih tahun 2012 akhir, aku mendapat kabar dia melanjutkan kuliah disalah satu Universitas Swasta di Jakarta. Angin segar akan bertemu, satu pulau bolehlah bertemu sekedar melepas rindu, pikirku. Sambil mecari info tentangnya.

Kurang lebih tahun 2014, aku ke Jakarta dalam rangka kegiatan kampus. Kami saling kontak, untuk bertemu. Janjiku setelah kegiatan selesai aku akan menetap beberapa hari di Jakarta. Pasti aku tepati janji itu.

Setelah beberapa hari, kegiatan semua selesai. Aku berpisah dengan teman-teman kampus. Mereka semua balik kembali. Aku harus menetap untuk beberapa hari.

Alamatnya telah aku dapatkan, ini pertama kaliku menginjak kota metropolitan dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Kususuri jalan untuk menemukan alamat, berganti angkutan umum untuk sampai ke alamat yang dituju. Lumayan butuh waktu lama, kami pun saling bertemu.

Setelah beberapa tahun tak bertemu, dia telah beranjak menjadi wanita dewasa dan mandiri. Wanita yang dulu kucel kini telah menjadi wanita yang anggun. Pertama kali bertemu hampir tak saling mengenal. Kami bertemu disalah satu kedai kopi yang ada dikota itu

Oh iya, saking bahagianya hari itu cerita kami sangat panjang sampai lupa dengan waktu, malam sudah sangat pekat. Tak selesai malam itu, esoknya kami menuju salah satu tempat wisata untuk sekedar bermain mengingat masa-masa kecil dulu.

Seharian kami bermain ditempat itu. Ketika senja kami beranjak ke pinggir pantai sekedar melihat kemilau cahaya keemasan senja. Walaupun tak seindah senja dikampungku, saat itu sudah bisa mengobati kerinduan kami.

Setelah beberapa hari disana, aku memutuskan untuk kembali ke Jogja. Hubungan kami tak putus sampai disitu, pesan pribadi tetap menyambungkan silaturahmi kami.

***

Pilihan yang tepat, dia kembali ke kota kelahiran kami untuk menyusuri jejak demi jejak masa depannya. Silaturahmi akan selalu tetap terjaga walaupun berbeda pulau.

Diapun mengabariku ketika telah menemukan tempat untuk bekerja, dia sangat bahagia dengan pekerjaan itu. Dia adalah wanita pekerja keras dengan bertalenta yang mumpuni tak khayal pekerjaan dengan mudah dia dapatkan.

Sampai pada waktu ketika dia masuk rumah sakit akibat penyakit yang menggerogotinya. Kangker usus, penyakit itu yang membuatnya kuat dan tegar. Setelah berjuang dengan penyakit itu ada kabar baik berhembus dia telah sembuh dari penyakitnya. "Alhamdulillah 'ala kulli hall"

Bulan Juni lalu sempat kami membuat janji untuk bertemu. Dia akan ke Jogja. Dokter yang menanganinya ketika sakit berada di kota ini. Dia akan memeriksakan penyakitnya untuk memastikan kesembuhannya. Satu lagi pintanya, dia ingin sekali menyusuri keistimewaan kota ini. Dengan senang hati aku menerima janji itu.

Tak berselang lama, aku mendapat kabar. Dia harus mengulang penyakitnya. Mengulang penderitaan itu. Menapaki jejak penyakitnya dari awal kembali. "kamu pasti kuat zi"

Diawal bulan september kabar buruk itu datang. Aku tak percaya dengan semua ini. Aku belum bisa menerima semua ini. Ini terlalu cepat untuk semuanya.

Zia, Tuhan berkehendak lain.
Zia, Tuhan tidak ingin melihat lebih jauh lagi penderitaanmu.
Zia, Tuhan lebih sayang kepadamu.

Kamu telah menutup mata untuk selamanya. Kamu tidak akan kembali lagi ke dunia ini. Kamu telah berdiri bersama dideretan para pengikut Rasulullah SAW di Surga-Nya.

Selamat jalan sahabat.
Terimakasih...
Kamu telah menjadi lentera perjalananku.
Kamu telah menjadi warna dalam kehidupanku.
Kamu telah melengkapi sebagian cerita hidupku

Maafkan semua kesalahanku.
Maafkan segala kekuranganku.
Kamu akan menemukan suasana indah ditempatmu yang baru...

Aku, kami, keluargamu takkan pernah melupakanmu...


Dari Sahabatmu,



                                                                                                Yogyakarta, 29 Desember 2016




Comments

Popular posts from this blog

Dua Puluh Dua Desember

Fajar yang terlihat jelas dari sela jendela kamar, kemilau cahayanya membuat suasana yang tadi dingin oleh tetesan embun menjadi hangat, ah ternyata embun itu sudah menyatu dengan udara. Pagi ini sangat indah, tak ada mendung yang menyelimuti, semoga hari ini hati bersahabat. Aku mengintip dari balik jendela kamar terlihat daun-daun pepohonan yang ada dihalaman mulai berjatuhan ditanah. Beberapa ekor ayam yang sedang mencari secuil rezekinya dibalik dedaunan dengan penuh semangat. Hati ini terasa damai. "Ibu" Wajahmu secara cepat teringat dibenakku, kusingkapkan selimut yang sedari tadi menempel dengan lembut ditubuhku. Iya, usai subuhan tadi kantukku tak tertahan lagi sampai lupa matahari sudah setinggi jengkal menyinari bumi. Kucoba meraih sebuah album kecil yang baru beberapa bulan dicetak, sengaja aku cetak dua foto setiap foto, satu untuk ibu satu untukku. Foto dibalik layar Hp tak seindah foto yang ada dalam album, rasanya bergerak dan hidup, lupakan itu hanya...

Senja Dipenghujung Tahun

Foto: pecintasendja Senja, aku harap kamu tidak melupakan hari ini. Karena senja hari ini adalah penyambung senja esok hari. Senja, cahayamu hari ini sangat lembut membuat suasana hati penghuni bumi ini bahagia. Senja, jangan malu-malu untuk selalu menampakkan kelembutannmu. Karena, cahayamu memberikan kekuatan kepada malam. Senja, aku harap besok kamu kembali lagi dengan suasana yang baru. Karena aku selalu butuh suasana baru. Senja, jangan bosan-bosan sinari penduduk bumi. Karena sinarmu adalah sebuah pengharapan. Senja, terimakasih tentang ceritamu hari ini. Aku akan tetap menunggu ceritamu nanti. Senja, terimakasih kamu telah meramaikan suasana sore dipenghujung tahun ini, semoga ditahun depan senjamu lebih banyak memancarkan keemasannya di ufuk barat. Sore ini adalah akhir cahaya keemasan lembutmu menyinari kotaku ditahun ini. Esok, jangan lupa untuk menampakkan cahaya lembut keemasanmu sebagai awal perkenalan ditahun yang baru.