Skip to main content

Cintai Aku Dengan Akadmu, Bukan Coklatmu!

Foto: Tarjih
Oleh: Samsul Zakaria, S.Sy

Pagi ini, Rabu (11/02/2015), saya mendapatkan kiriman gambar di WhatsApp (WA). Dalam gambar tersebut terlukis tumpukan dua coklat dan dua helai daun. Tertulis di atasnya, “Cintai Aku Dengan Akadmu Bukan Coklatmu, Mas...” Tentu sangat mudah untuk diterka kemana arah sindiran tersebut. Sabtu ini, 14 Februari 2015, kaula muda bahkan tidak hanya yang muda akan merayakan Valentine’s Day (Hari ‘Kasih Sayang’).

Apa yang salah dengan berbagi kasih dan sayang? Bukankah Islam diturunkan untuk menjadi rahmat, membawa cinta, kasih, dan sayang bagi semesta? Pertanyaan tersebut menjadi alasan pembenar bagi mereka yang mendewakan Valentine’s Day. Lalu bagaimana menanggapinya? Sayang memang boleh dibagikan. Tetapi pada saat yang tepat, dengan porsi yang tepat, dan kepada orang yang tepat.

Menjelang perayaan Valentine’s Day, banyak toko yang menjual coklat beserta ini yang memprihatinkan, Kondom! Dari situ dapat dibaca bahwa Valentine’s Day tidak berhenti pada coklat. Coklat itu barangkali hanya awalan, baru pemanasan, masih ada babak lanjutan. Paling parahnya yaitu penggunaan kondom secara bebas. Seolah bukan aib lagi berhubungan badan di luar nikah berkedok “pembuktian cinta dan sayang”.

Bagaimana nasib generasi masa depan bila akhlak pemudanya sudah sedemikian mengerikan. Tidak ada lagi batasan antara mana yang boleh dan mana yang dilarang. Asalkan banyak orang yang melakukan maka artinya hal itu dibenarkan. Asalkan sudah dicontohkan oleh orang keren (baca: orang barat) berarti itu modern dan baiknya dicontoh. Inilah logika yang amat berbahaya! Dan sayangnya, itulah yang seringkali terjadi.

Dari namanya, Valentine’s Day jelas bukan “produk” asli Indonesia. Meskipun “perkembangbiakannya” boleh jadi masif di Indonesia. Valentine’s Day adalah musuh bagi bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Disamping itu, Indonesia juga masih memegang teguh adat ketimuran. Oleh karena itu, butuh upaya keras dan cerdas untuk menolak budaya barat tersebut.

Saya pribadi sungguh miris ketika membaca berita di media masa. Media misalnya memberitakan artis barat yang baru memutuskan menikah setelah memiliki anak dengan pasangannya. Berita yang demikian tentu berbahaya ketika dibaca oleh mereka yang tidak pandai memfilter. Lebih jauh lagi, hal tersebut mempengaruhi sikap generasi muda ketika Valentine’s Day tiba.

Sekali lagi bahwa berbagi sayang itu sah-sah saja. Namun yang harus diingat adalah “bagaimana” sayang itu dibagikan. Seorang wanita yang baik pasti tegas sikapnya. Dia tidak ingin disayangi dengan sekadar coklat, jalan-jalan berdua, apalagi sampai “menginap” bersama. Kasih sayang yang hakiki adalah ketika laki-laki berani untuk mengucap janji suci. Itulah akad nikah, pembuktian cinta yang sahih dan sah.

Setelah akad, cinta yang sejati dimulai. Dengan isteri tercinta, “Valentine’s Day” setiap hari justru sunnah hukumnya. Artinya, kalau memang ngotot mau Valentine’s Day silahkan, tetapi nanti. Coklat dan semisalnya yang diberikan sebelum akad karena harap imbalan kemungkinan besar sia-sia. Sementara bagi yang sudah menikah, membuktikan cinta hanya dengan senyuman mesra, meskipun tanpa coklat, luar biasa indahnya plus berpahala.

Comments

Popular posts from this blog

Dua Puluh Dua Desember

Fajar yang terlihat jelas dari sela jendela kamar, kemilau cahayanya membuat suasana yang tadi dingin oleh tetesan embun menjadi hangat, ah ternyata embun itu sudah menyatu dengan udara. Pagi ini sangat indah, tak ada mendung yang menyelimuti, semoga hari ini hati bersahabat. Aku mengintip dari balik jendela kamar terlihat daun-daun pepohonan yang ada dihalaman mulai berjatuhan ditanah. Beberapa ekor ayam yang sedang mencari secuil rezekinya dibalik dedaunan dengan penuh semangat. Hati ini terasa damai. "Ibu" Wajahmu secara cepat teringat dibenakku, kusingkapkan selimut yang sedari tadi menempel dengan lembut ditubuhku. Iya, usai subuhan tadi kantukku tak tertahan lagi sampai lupa matahari sudah setinggi jengkal menyinari bumi. Kucoba meraih sebuah album kecil yang baru beberapa bulan dicetak, sengaja aku cetak dua foto setiap foto, satu untuk ibu satu untukku. Foto dibalik layar Hp tak seindah foto yang ada dalam album, rasanya bergerak dan hidup, lupakan itu hanya...

Senja Dipenghujung Tahun

Foto: pecintasendja Senja, aku harap kamu tidak melupakan hari ini. Karena senja hari ini adalah penyambung senja esok hari. Senja, cahayamu hari ini sangat lembut membuat suasana hati penghuni bumi ini bahagia. Senja, jangan malu-malu untuk selalu menampakkan kelembutannmu. Karena, cahayamu memberikan kekuatan kepada malam. Senja, aku harap besok kamu kembali lagi dengan suasana yang baru. Karena aku selalu butuh suasana baru. Senja, jangan bosan-bosan sinari penduduk bumi. Karena sinarmu adalah sebuah pengharapan. Senja, terimakasih tentang ceritamu hari ini. Aku akan tetap menunggu ceritamu nanti. Senja, terimakasih kamu telah meramaikan suasana sore dipenghujung tahun ini, semoga ditahun depan senjamu lebih banyak memancarkan keemasannya di ufuk barat. Sore ini adalah akhir cahaya keemasan lembutmu menyinari kotaku ditahun ini. Esok, jangan lupa untuk menampakkan cahaya lembut keemasanmu sebagai awal perkenalan ditahun yang baru.

Sahabat, Tuhan Lebih Sayang Kepadamu.

"Sahabat, kamu adalah lentera jalan yang melengkapi setiap perjalananku" Di tahun 2001, ada siswa baru masuk kekelas kami. Dia melengkapi meja yang telah kosong dideretan tengah. Jika dijelaskan dengan jelas, dia masih ikatan keluarga. Wajar saja, kelas ini di isi oleh sahabat sepermainan dari kecil. Kami hanya ber enam waktu itu dan ditambah dengan kedatangan satu murid baru. Tak ada siswa selain dari desa kami. Kampung damai kecil dipesisir pantai. Namanya Nur Safaria Zirun, kami semua memanggilnya Zia. Alasan anak itu masuk dikelas kami karena baru saja pindah dari sekolahnya diseberang pulau sana. Mulai dari main bareng, canda bareng. Kebersamaan kami mulai terbangun dengan rapih selama setahun. Tak sampai lulus bersama kami, hanya setahun dia mengenyam kebersamaan bersama kami, entah dia melanjutkan sekolah dikota mana, tak ada kabarpun. Bak hilang ditelan waktu. Aku dan yang lainnya tetap satu sekolah didesa yang sama, sekolah dikota waktu itu hanya...