Skip to main content

Dua Puluh Dua Desember


Fajar yang terlihat jelas dari sela jendela kamar, kemilau cahayanya membuat suasana yang tadi dingin oleh tetesan embun menjadi hangat, ah ternyata embun itu sudah menyatu dengan udara. Pagi ini sangat indah, tak ada mendung yang menyelimuti, semoga hari ini hati bersahabat.

Aku mengintip dari balik jendela kamar terlihat daun-daun pepohonan yang ada dihalaman mulai berjatuhan ditanah. Beberapa ekor ayam yang sedang mencari secuil rezekinya dibalik dedaunan dengan penuh semangat. Hati ini terasa damai.

"Ibu"
Wajahmu secara cepat teringat dibenakku, kusingkapkan selimut yang sedari tadi menempel dengan lembut ditubuhku. Iya, usai subuhan tadi kantukku tak tertahan lagi sampai lupa matahari sudah setinggi jengkal menyinari bumi.

Kucoba meraih sebuah album kecil yang baru beberapa bulan dicetak, sengaja aku cetak dua foto setiap foto, satu untuk ibu satu untukku. Foto dibalik layar Hp tak seindah foto yang ada dalam album, rasanya bergerak dan hidup, lupakan itu hanya anggapanku semata. Kubuka lembar demi lembar, tatapanku tak pernah lari dari album itu.

Hasil lensa kamera itu tidak pernah bohong, keriput disela-sela wajahnya mulai terlihat. Ibu sudah mulai tua dan lelah. Tatapanmu masih tajam, masih seperti tatapan waktu aku kecil dulu. Aku masih ingat senyummu, bahagiamu dan marahmu. Marah yang kami rasakan adalah marah kasih sayangmu.

Sejak pertama kali aku mulai merantau, aku kurang yakin ibu akan kuat. Tapi hari itu ibu terlihat tegar dan kuat untuk melepas anak keduanya ini, mungkin masih ada dua anaknya lagi yang menemaninya. Aku senang, ibu tidak merasa sedih.

Kayakinanku sebelumnya terjawab, ibu hanya berpura-pura tegar dan kuat dihadapanku, semua itu aku tahu dari Abah. Hampir setiap malam tangisanmu ditujukkam kepadaku.

Ibu, jika bumi dan isinya ini berubah menjadi emas dan berlian, semua itu tak mampu mengalahkanmu. Karat-karatnya yang berdosis tinggi takkan mampu melebihimu.

Ibu, aku takkan pernah mampu membalas pengorbananmu walau setarik nafas ketika engkau melahirkanku.

Ibu, aku yakin do'a untukku selalu ada disetiap sujudmu, sholatmu, ibadahmu.

Ibu, aku takkan pernah lupa untuk selalu mendo'akanmu. Agar ibu selalu diberikan  kesehatan dan kerahmatan dari gusti Allah Swt.

Izinkanlah aku untuk selalu membahagiakanmu walau tak seberapa dibanding dengan pengorbananmu.



Yogyakarta, 22 Desember 2016

Comments

Popular posts from this blog

Senja Dipenghujung Tahun

Foto: pecintasendja Senja, aku harap kamu tidak melupakan hari ini. Karena senja hari ini adalah penyambung senja esok hari. Senja, cahayamu hari ini sangat lembut membuat suasana hati penghuni bumi ini bahagia. Senja, jangan malu-malu untuk selalu menampakkan kelembutannmu. Karena, cahayamu memberikan kekuatan kepada malam. Senja, aku harap besok kamu kembali lagi dengan suasana yang baru. Karena aku selalu butuh suasana baru. Senja, jangan bosan-bosan sinari penduduk bumi. Karena sinarmu adalah sebuah pengharapan. Senja, terimakasih tentang ceritamu hari ini. Aku akan tetap menunggu ceritamu nanti. Senja, terimakasih kamu telah meramaikan suasana sore dipenghujung tahun ini, semoga ditahun depan senjamu lebih banyak memancarkan keemasannya di ufuk barat. Sore ini adalah akhir cahaya keemasan lembutmu menyinari kotaku ditahun ini. Esok, jangan lupa untuk menampakkan cahaya lembut keemasanmu sebagai awal perkenalan ditahun yang baru.

Sahabat, Tuhan Lebih Sayang Kepadamu.

"Sahabat, kamu adalah lentera jalan yang melengkapi setiap perjalananku" Di tahun 2001, ada siswa baru masuk kekelas kami. Dia melengkapi meja yang telah kosong dideretan tengah. Jika dijelaskan dengan jelas, dia masih ikatan keluarga. Wajar saja, kelas ini di isi oleh sahabat sepermainan dari kecil. Kami hanya ber enam waktu itu dan ditambah dengan kedatangan satu murid baru. Tak ada siswa selain dari desa kami. Kampung damai kecil dipesisir pantai. Namanya Nur Safaria Zirun, kami semua memanggilnya Zia. Alasan anak itu masuk dikelas kami karena baru saja pindah dari sekolahnya diseberang pulau sana. Mulai dari main bareng, canda bareng. Kebersamaan kami mulai terbangun dengan rapih selama setahun. Tak sampai lulus bersama kami, hanya setahun dia mengenyam kebersamaan bersama kami, entah dia melanjutkan sekolah dikota mana, tak ada kabarpun. Bak hilang ditelan waktu. Aku dan yang lainnya tetap satu sekolah didesa yang sama, sekolah dikota waktu itu hanya...