Saya memang menyukai berbincang dengan rakyat biasa, di mana saja dan kapan saja yang sekiranya memungkinkan. Berbincang dengan rakyat biasa tidak seperti yang lazim dilakukan oleh para eksekutif, yakni harus mencari tempat khusus dan waktu khusus pula.
Berbincang dengan mereka itu bisa dilakukan di taksi, jika sedang naik taksi, di pos penjagaan kampung (kampling) jika sedang mendapat giliran ronda, di masjid bakda sholat jama'ah dan lain-lain. Pokoknya perbincangan bebas itu bisa di mana saja yang mungkin bisa dilakukan.
Rakyat biasa yang saya maksudkan dalam tulisan ini adalah orang-orang tertentu yang umumnya berpendidikan rendah dan juga ekonomi mereka pas-pasan atau tidak berlebihan. Orang yang berpendidikan tinggi dan berekonomi cukup, dan mereka yang masuk kelas menengah ke atas, tidak saya masukkan dalam kategori kelompok ini.
Walaupun mereka itu juga berstatus rakyat biasa, tetapi seringkali sebutannya bukan itu, melainkan orang berada, pengusaha, kelompok eksekutif, atau sebutan lain yang memiliki nuansa bergengsi. Orang yang berekonomi lemah di pedesaan, jika ditanya tentang statusnya, mereka akan menjawab : "kulo namung rakyat biasa."
Dengan kesenangan itu, kemana saja, baik di taksi, di pos kamling kampung tatkala mendapat giliran ronda, atau di masjid setelah selesai sholat berjama'ah dan lain-lain, saya selalu menggunakan kesempatan untuk berbincang dengan mereka yang saya temui.
Rakyat biasa biasanya juga senang diajak berbincang-bincang tentang kehidupan, apalagi menyangkut persoalan yang sedang mereka hadapi. Kesenangan itu semakin bertambah, jika mereka tahu tentang status saya sebagai dosen dan juga sekaligus pimpinan perguruan tinggi. Mereka umumnya sangat menghargai, dan juga bangga memperoleh perhatian.
Berbagai pengalaman menarik itu, jika ada kesempatan saya tuangkan dalam bentuk tulisan dan selanjutnya saya bagikan kepada siapa saja melalui website. Cara seperti itu saya lakukan dengan maksud, agar menjadi bagian dari upaya bertukar pengalaman tentang kebaikan, atau jika mengikuti bahasa al Qur'an saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran. Banyak pengalaman menarik dan penuh hikmah yang saya peroleh, justru dari rakyat biasa, misalnya dari sopir taksi, buruh pabrik, pekerja bangunan, penjual keliling dan lain-lain.
Seringkali saya menjadi sangat terharu mendengar ceritera tentang kehidupan mereka, sopir taksi misalnya, yang sehari-hari harus mengejar uang untuk setoran. Jika lagi beruntung, dalam waktu yang tidak terlalu lama sejumlah uang setoran, berhasil diperoleh. Tetapi, jika sebaliknya dalam keadaan sial, sehari semalam, sebatas untuk membayar setoran saja, tidak mencukupi.
Kata mereka, hidup itu bagaikan ombak, kadang naik, tetapi sebaliknya kadang turun. Rizki sudah ada yang membagi, tidak akan didapat jika memang bukan bagiannya. Keyakinan seperti ini yang menjadikan mereka sabar dan ikhlas dalam menghadapi hidup.
Melalui perbincangan bebas itu, seringkali saya mendapatkan penjelasan dari suara hati mereka. Rakyat biasa, sesungguhnya tidak berharap menjadi kaya, atau hidup serba berlebih-lebihan. Kadang saya memperoleh ungkapan yang mengharukan, misalnya tentang cita-cita atau harapan yang selama ini diinginkan.
Ternyata mereka hanya berharap agar kebutuhan hidup sehari-hari tercukupi, misalnya memiliki rumah untuk berteduh, sembako tercukupi, pakaian dan bisa melunasi SPP bagi anak-anak setiap bulannya. Memang ternyata tidak sedikit rakyat biasa yang sekalipun sudah bekerja, masih bergelut memenuhi kebutuhan primer itu.
Beberapa hari terakhir ini, saya mendapat kesempatan berbincang terkait dengan pemilu yang baru saja usai. Lewat perbincangan itu, saya mendapatkan gambaran yang menarik. Pemilu ini, bagi rakyat biasa diharapkan melahirkan perubahan. Setelah pemilu diharapkan ke depan agar hidup menjadi lebih mudah.
Lagi-lagi yang dimaksud mudah di sini juga sederhana, misalnya terpenuhinya kebutuhan sembako, minyak, listrik dan pendidikan bagi anak-anaknya. Yang mereka inginkan agar harga sembako jangan naik, begitu juga BBM. Mereka tahu bahwa, dengan kenaikan harga BBM menjadikan semua harga lainnya juga naik. Mereka tidak ingin kemudian merasa semakin berat menghadapi kehidupannya.
Terkait dengan pemilu yang baru lalu, rakyat biasa ternyata juga memiliki pandangan tentang para pemimpin nasional. Mereka menilai bahwa semua nama calon pemimpin yang mereka dapatkan dari siaran radio, koran dan televisi dianggapnya sudah baik. Pak SBY kata mereka baik. Orangnya berwibawa, mantap, seringkali tampak di masjid bersembahyang, berani memberantas korupsi pada siapapun pelakunya.
Pak Yusuf Kala, juga dianggap baik, orangnya gesit dan cepat mengambil tindakan. Demikian juga Ibu Megawati yang pernah menjadi presiden periode yang lalu. Ibu Megawati, kata mereka, mendapatkan titisan dari ayahnya, Presiden pertama yang dekat dengan rakyat kecil. Begitu juga Pak Wiranto, Pak Prabowo, Pak Sri Sultan, Pak Hidayat Nur Wahid. Para pemimpin itu semua dianggap oleh rakyat biasa, sudah teruji kemampuan dan integritasnya pada negeri ini, sangat baik.
Atas dasar pandangan itu, rakyat biasa yang saya ajak berbincang-bincang berpendapat alangkah indah, kuat dan kokohnya bangsa ini, jika mereka tidak saling bersaing, membentuk kelompok-kelompok yang saling berhadap-hadapan, tetapi sebaliknya, berkumpul dan bersatu, bersama memperbincangkan semua persoalan mendesak yang dihadapi dan menghimpit rakyat negeri ini. Rakyat saat ini merasa kesulitan menghadapi berbagai persoalan hidup, seperti memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, kesulitan mencari lapangan kerja, pendidikan bagi anak-anak yang layak, dan lain-lain.
Rakyat biasa yakin bahwa persoalan itu segera selesai, jika dipimpin oleh orang-orang yang saling menyatu dan bukan sebaliknya saling bersaing. Bangsa sebesar ini tidak akan mungkin bisa dipimpin oleh beberapa orang saja. Oleh karena itu, rakyat biasa dengan bahasanya yang lugu, membayangkan bagaimana jika kekuatan para pemimpin itu itu disatukan, bukan kemudian justru saling menjatuhkan.
Rakyat biasa juga ikut berpendapat, sekalipun mereka tahu bahwa pendapat mereka tidak akan sampai terdengar, termasuk oleh para pimpinan negeri ini, bahwa hanya dengan bermodal bersatunya para pemimpin negeri sebesar ini, rakyat akan menjadi lebih baik kehidupannya dan bangsa akan mampu menghadapi persoalan besar ke depan.
Rakyat biasa juga memiliki pandangan, bahwa sepanjang para pemimpinnya tidak bersama dan bersatu secara kokoh, kekuatan apapun yang dimiliki oleh bangsa ini akan sia-sia dan tidak akan memberi manfaat bagi usaha memakmurkan rakyatnya. Negeri ini telah memiliki falsafah yang mulia, yakni Pancasila, semboyan Bhinaka Tunggal Eka, UUD 1945 dan lain-lain. Semua itu oleh rakyat biasa dipandang indah dan sempurna.
Namun rakyat juga memerlukan petunjuk dan tauladan dari para pemimpin, bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai luhur itu. Rakyat biasa ternyata memiliki kearifan yang tinggi. Namun mereka masih berharap selalu mendapatkan tauladan dari para pemimpin negeri ini, termasuk tauladan tentang bagaimana menjadi bersama, bersatu dan saling memperkukuh. Akhirnya, lebih dari itu, saya kira tidak saja rakyat biasa yang memerlukan hal itu, tetapi juga rakyat secara keseluruhan. Allahu a'lam.
Sumber: imamsuprayogo.com
Comments
Post a Comment