Skip to main content

Rezeki Siapa Yang Tahu

Pecel Lele 58. Jl. Berbah (Depan Paskhas)
Siang itu abang sedang mencari kontrakan rumah untuk ditempati anak temennya abahnya abang disekitaran Gowok. Asyik-asyik nyari, tiba-tiba perut mulai keroncongan ternyata belom makan seharian, matahari udah tinggi banget. Mampirlah abang disebuah warung makan yang suasananya sangat nikmat, berhadapan langsung dengan lumbung padi (persawahan).

Dengan memesan satu porsi nasi ayam goreng sambal bawang dan es teh, makanannya lumayan enak kok, murah meriah. Selesai makan abang mulai mencoba bertanya ke pedagangnnya soal kontrakan, ya mungkin aja ada informasi. Dan ternyata, mas-mas penjualnya ngarahin ke suatu tempat kalau ditempat itu banyak kontrakan-kontrakan murah. Setelah membayar semuanya,  abang menuju alamat yang telah diterangkan oleh mas nya tadi, dan akhirnya saya menemukan banyak kontrakan ditempat itu.

Pelajaran yang dapat abang ambil adalah, ibaratkan rezeki, kita tidak akan tahu dari mana asalnya dan akan datang dari siapa, rezeki untuk mendapatkan kontrakan tersebut abang dapatnya dari mas-masnya penjual pecel lele yang tempat suasanya sangat nikmat. Saya membantu membawakan rezeki mereka dengan membeli makanan diwarung mereka dan mereka memberikan saya rezeki untuk mendapatkan kontrakan tersebut.

Jadi inti dari semua itu, jangan lupa makan nanti sakit, jangan malu bertanya nanti tersesat dijalan. #huwazeek jangan terlalu serius, mari kita makan neng. #huwahaha

Comments

Popular posts from this blog

Dua Puluh Dua Desember

Fajar yang terlihat jelas dari sela jendela kamar, kemilau cahayanya membuat suasana yang tadi dingin oleh tetesan embun menjadi hangat, ah ternyata embun itu sudah menyatu dengan udara. Pagi ini sangat indah, tak ada mendung yang menyelimuti, semoga hari ini hati bersahabat. Aku mengintip dari balik jendela kamar terlihat daun-daun pepohonan yang ada dihalaman mulai berjatuhan ditanah. Beberapa ekor ayam yang sedang mencari secuil rezekinya dibalik dedaunan dengan penuh semangat. Hati ini terasa damai. "Ibu" Wajahmu secara cepat teringat dibenakku, kusingkapkan selimut yang sedari tadi menempel dengan lembut ditubuhku. Iya, usai subuhan tadi kantukku tak tertahan lagi sampai lupa matahari sudah setinggi jengkal menyinari bumi. Kucoba meraih sebuah album kecil yang baru beberapa bulan dicetak, sengaja aku cetak dua foto setiap foto, satu untuk ibu satu untukku. Foto dibalik layar Hp tak seindah foto yang ada dalam album, rasanya bergerak dan hidup, lupakan itu hanya...

Senja Dipenghujung Tahun

Foto: pecintasendja Senja, aku harap kamu tidak melupakan hari ini. Karena senja hari ini adalah penyambung senja esok hari. Senja, cahayamu hari ini sangat lembut membuat suasana hati penghuni bumi ini bahagia. Senja, jangan malu-malu untuk selalu menampakkan kelembutannmu. Karena, cahayamu memberikan kekuatan kepada malam. Senja, aku harap besok kamu kembali lagi dengan suasana yang baru. Karena aku selalu butuh suasana baru. Senja, jangan bosan-bosan sinari penduduk bumi. Karena sinarmu adalah sebuah pengharapan. Senja, terimakasih tentang ceritamu hari ini. Aku akan tetap menunggu ceritamu nanti. Senja, terimakasih kamu telah meramaikan suasana sore dipenghujung tahun ini, semoga ditahun depan senjamu lebih banyak memancarkan keemasannya di ufuk barat. Sore ini adalah akhir cahaya keemasan lembutmu menyinari kotaku ditahun ini. Esok, jangan lupa untuk menampakkan cahaya lembut keemasanmu sebagai awal perkenalan ditahun yang baru.

Sahabat, Tuhan Lebih Sayang Kepadamu.

"Sahabat, kamu adalah lentera jalan yang melengkapi setiap perjalananku" Di tahun 2001, ada siswa baru masuk kekelas kami. Dia melengkapi meja yang telah kosong dideretan tengah. Jika dijelaskan dengan jelas, dia masih ikatan keluarga. Wajar saja, kelas ini di isi oleh sahabat sepermainan dari kecil. Kami hanya ber enam waktu itu dan ditambah dengan kedatangan satu murid baru. Tak ada siswa selain dari desa kami. Kampung damai kecil dipesisir pantai. Namanya Nur Safaria Zirun, kami semua memanggilnya Zia. Alasan anak itu masuk dikelas kami karena baru saja pindah dari sekolahnya diseberang pulau sana. Mulai dari main bareng, canda bareng. Kebersamaan kami mulai terbangun dengan rapih selama setahun. Tak sampai lulus bersama kami, hanya setahun dia mengenyam kebersamaan bersama kami, entah dia melanjutkan sekolah dikota mana, tak ada kabarpun. Bak hilang ditelan waktu. Aku dan yang lainnya tetap satu sekolah didesa yang sama, sekolah dikota waktu itu hanya...