Skip to main content

Curhatan Miris Antara Tukang Becak dan Iwan Fals

Foto by Matholhe
Beberapa hari yang lalu, ane ama sohib main ke Malioboro sekedar cuci mata, mata juga perlu dimanjakan dengan yang indah-indah agar tetap cerah. Niat kami hanya sekedar bersantai-santai sambil mengendarai motor Rx King kebanggaan ane, begitu ceritanya. Ketika sementara mengendarai motor agar baik jalannya, sohib ane nyeletuk.

Sohib: "Itu pengamen Malioboro yang melegenda, nyanyinya keren"
Ane: "Oh itu yang pengamen yang pernah ente cerita?"
Sohib: "Ho'o"

Beberapa waktu lalu sohib ane pernah cerita, kalo ada pengamen dengan peralatan perang yang lengkap dari gitar, celo, bass, drum mini, sound dan suara-suara paruh baya yang mengiang-ngiang ditelinga.

Motor ane pinggirin kebahu trotoar jalan Malioboro, banyak motor yang sedang parkir. Ditemani beberapa tukang becak yang sedang parkir berjajar rapih, sambil mengibas-ngibaskan handuk kecil yang terlihat tua dan usang.

Dengan senyum manis dan nada pelan ala Robbie Williams, ane mencoba pamit untuk parkir disebelah tukang becak.

Ane: "Pamit pak"
Kang Becak: "Oh, Ngeeh mas"

Jam menunjukkan waktu pukul 9 malam, masih dengan suara merdunya membawakan lagu Bongkar yang dipopulerkan oleh Iwan Fals, suara paruh baya itu mengendus dikeheningan malam yang ramai. Ane mencoba antri ditempat duduk melegenda yang baru beberapa bulan diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. Lagi banyak yang sedang duduk santai menikmati malam di tempat tersebut.

Hampir sejam ane berada ditempat itu menikmati lagu-lagu dengan suara yang serak-serak basaaaah. Ane sejam disitu nggak dengerin percuma kok.

Sebelum balik, ane sempatkan untuk sekedar menyapa sambil basa-basilah dikit. Eh, ternyata ngobrolnnya panjang. Tibalah ane mendengar sedikit curhatan seorang bapak yang terlihat sudah sangat tua. Sempat lupa nanyain nama beliau. Oke sebut saja beliau Pak Mudingin. Curhatannya dengan menggunakan bahasa gado-gado, dicampur Jawa blasteran Indonesia, mungkin begini intinya.
Ane: "Pak gimana hari ini?"
Pak Mudingin: "Waduuh mas, beras sekilo aja nggak nyukup"
Ane: "Waduuh, gimana itu pak?"
Pak Mudingin: "Iya mas, saya dari pagi berangkat dari rumah, sampe jam segini penumpang cuman dapet dua. Itupun pake beli makan tadi siang, duitnya habis"

Dengan nada yang terdengar sayup dan dingin, Pak Mudingin melanjutkan curhatannya.

Pak Mudingin: "Padahal dulu, banyak sekali penumpang yang mau duduk manis sambil minta diantar kesana-kesini. Tanpa susah payah ditawarkan mereka udah langsung nawarin diri minta dianterin ketujuannya. Sekarang boro-boro minta diantar, ditawarin ampe capek pun pada nggak mau (susah), ada sih yang mau tapi nggak serame dulu"

Pak Mudingin: "Mas, kemarin ada teman bapak yang berangkat dari pagi ampe jam 10 malam cuman dapat satu penumpang. Apa nggak kasihan, udah pamit sama anak istri untuk bekerja seharian, pas pulang nggak bawa apa-apa"

Pak Mudingin: "Sekarang banyak yang online mas, jadi yang seperti kita ini nggak kepake lagi. Apa-apa serba online, mau pergi kesana dikit pake online, mau gini online, mau gitu online. Ya susah mas, jadinya pendapatan ya begini aja, mesti disyukuri"

Ane: "Pemerintah nggak ngasih solusi?"
Pak Mudingin: "Ya gitulah mas, sudah banyak teman-teman yang lain minta jalan keluar. Tapi ya gitulah mas, nggak da kelanjutannya"

Mungkin begitu perbincangan secara halus dengan estetika penulisan ane dengan pak Mudingin. Sudah ane bilang diawal, curhatan Pak Mudingin campur-campur jadi ane nyaring aja. Kurang lebih begitu isinya perbincangan curhatannya.

Ane berkesimpulan, mereka terkena dampaknya oleh yang online. Entah bagaimana, satu sisi ane dukung adanya transportasi online, satu sisi juga kasihan mendengar curhatan miris seperti para pengemudi seperti Pak Mudingin, si tukang becak.

Tidak menuntut kemungkinan, kita tidak bisa menyalahkan adanya transportasi online, karena masyarakat saat ini sangat membutuhkan itu. Secara instan, dengan mudah mendapatkannya. Tidak perlu pergi mencari jauh, dengan satu sentuhan lembut udah bisa digunakan.

Kalau ojek konvensional bisa diubah menjadi ojek online karena kendaraan nya berbentuk mesin, mau kemanapun bisa yang penting jangan order ke bulan aja, begitu pula mobil. Lah, kalo becak? Nggak mungkin klo di online kan. Becak kalo mau jalan kan mesti dikayuh, yang kayuh itu manusia, punya batas tenaga, gimana kalo yang order dari bandara mau kemalioboro, apa nggak gempor.

Mungkin ada yang menyela "Kenapa nggak dimotorin aja becaknya jadi bentor?" Pertama, pasti biayanya sangat mahal, karena mesti mengganti dengan pantat dan mesin motor, bukan biaya yang sedikit. Kedua, bentor memiliki faktor keselamatan yang minim karena dapat melaju dengan kecepatan tinggi. Sementara penumpang yang duduk di bagian depan tak dilengkapi dengan alat keselamatan seperti sabuk pengaman. Untuk sementara, itu dua alasan dari ane.

Agar tidak mendiskreditkan satu pihak, coba ketika mengajukan aspirasi kepemerintah, mengusulkan

"Transportasi online tidak boleh mengambil penumpang di sekitaran Malioboro, mengantarkan boleh, karena dari luar pasti jauh. Semua tukang becak diarahkan ngetem di Malioboro, agar icon Jogja makin terlihat dengan becak-becak yang ramai, membuat satu keunikan juga. Agar yg online dapat beroprasi dan yang konvensional juga bisa menghasilkan"

Ane memberikan masukan kepada Pak Mudingin, hanya masukan saja, kalo diterima ya sukur nggak juga ya nggak apa-apa. Namanya masukan, kadang diterima kadang juga yo nggak! Biasa ada yang ngomong gini "Jangan hanya memberikan masukan, gitu mah gampang, ayo bertindak" ...yuukk

Beberapa hari yang lalu, kita semua tahu, bahwa ada kericuhan terjadi di Tangerang, sopir angkot menabrak pengemudi ojek online, sampe koma. Naudzubillah. Dikota lain banyak pengemudi konvensional mulai menggerakkan massa, begitu pula di Jogja. Mogok seharian menjadi senjata yang masih digunakan sampai saat ini.

Pemerintah harus memberikan solusi yang terbaik dari yang terbaik, agar tidak terjadi hal-hal yang kurang baik seperti diatas Curhatan tukang becak ini hampir sama dengan curhatan Virgiawan Listanto yang lebih dikenal dengan sapaan Iwan Fals.

"Jika cinta kepada masyarakat mereka sudah dibuang, jangan berharap keadilan akan datang menghampiri. Kesedihanmu hanya akan menjadi tontonan bagi mereka yang memiliki jabatan, hanya diperbudak. Hanya disuruh sabar, sabar dan tunggu. Kayaknya harus ke jalan robohkan setan-setan dan jin yang berdiri mengangkang dimeja mereka. Mungkin dengan membongkar, karena cinta mereka tidak didengarkan lagi, kepada siapa lagi suara masyarakat didengarkan? Kami bertanya tolong kalian jawab dengan kasih sayang"

Baaah, curhatan Bang Iwan juga belum didengar!!!

Yang mempunyai tanggapan lain, silahkan berkomentar dibawah. Ane sudah memberikan ruang kosong dikolom komentar untuk ente semua. Kalau nggak ada komentar, berarti ente semua setuju dengan tulisan ane. Thanks!!!

Comments

Popular posts from this blog

Dua Puluh Dua Desember

Fajar yang terlihat jelas dari sela jendela kamar, kemilau cahayanya membuat suasana yang tadi dingin oleh tetesan embun menjadi hangat, ah ternyata embun itu sudah menyatu dengan udara. Pagi ini sangat indah, tak ada mendung yang menyelimuti, semoga hari ini hati bersahabat. Aku mengintip dari balik jendela kamar terlihat daun-daun pepohonan yang ada dihalaman mulai berjatuhan ditanah. Beberapa ekor ayam yang sedang mencari secuil rezekinya dibalik dedaunan dengan penuh semangat. Hati ini terasa damai. "Ibu" Wajahmu secara cepat teringat dibenakku, kusingkapkan selimut yang sedari tadi menempel dengan lembut ditubuhku. Iya, usai subuhan tadi kantukku tak tertahan lagi sampai lupa matahari sudah setinggi jengkal menyinari bumi. Kucoba meraih sebuah album kecil yang baru beberapa bulan dicetak, sengaja aku cetak dua foto setiap foto, satu untuk ibu satu untukku. Foto dibalik layar Hp tak seindah foto yang ada dalam album, rasanya bergerak dan hidup, lupakan itu hanya...

Senja Dipenghujung Tahun

Foto: pecintasendja Senja, aku harap kamu tidak melupakan hari ini. Karena senja hari ini adalah penyambung senja esok hari. Senja, cahayamu hari ini sangat lembut membuat suasana hati penghuni bumi ini bahagia. Senja, jangan malu-malu untuk selalu menampakkan kelembutannmu. Karena, cahayamu memberikan kekuatan kepada malam. Senja, aku harap besok kamu kembali lagi dengan suasana yang baru. Karena aku selalu butuh suasana baru. Senja, jangan bosan-bosan sinari penduduk bumi. Karena sinarmu adalah sebuah pengharapan. Senja, terimakasih tentang ceritamu hari ini. Aku akan tetap menunggu ceritamu nanti. Senja, terimakasih kamu telah meramaikan suasana sore dipenghujung tahun ini, semoga ditahun depan senjamu lebih banyak memancarkan keemasannya di ufuk barat. Sore ini adalah akhir cahaya keemasan lembutmu menyinari kotaku ditahun ini. Esok, jangan lupa untuk menampakkan cahaya lembut keemasanmu sebagai awal perkenalan ditahun yang baru.

Sahabat, Tuhan Lebih Sayang Kepadamu.

"Sahabat, kamu adalah lentera jalan yang melengkapi setiap perjalananku" Di tahun 2001, ada siswa baru masuk kekelas kami. Dia melengkapi meja yang telah kosong dideretan tengah. Jika dijelaskan dengan jelas, dia masih ikatan keluarga. Wajar saja, kelas ini di isi oleh sahabat sepermainan dari kecil. Kami hanya ber enam waktu itu dan ditambah dengan kedatangan satu murid baru. Tak ada siswa selain dari desa kami. Kampung damai kecil dipesisir pantai. Namanya Nur Safaria Zirun, kami semua memanggilnya Zia. Alasan anak itu masuk dikelas kami karena baru saja pindah dari sekolahnya diseberang pulau sana. Mulai dari main bareng, canda bareng. Kebersamaan kami mulai terbangun dengan rapih selama setahun. Tak sampai lulus bersama kami, hanya setahun dia mengenyam kebersamaan bersama kami, entah dia melanjutkan sekolah dikota mana, tak ada kabarpun. Bak hilang ditelan waktu. Aku dan yang lainnya tetap satu sekolah didesa yang sama, sekolah dikota waktu itu hanya...