Skip to main content

Suka Nggak Suka, Protes Nggak Protes, Barcelona Memang Begitu!

Laga 16 besar Liga Champion antara dua raja lapangan Spanyol dan Prancis yaitu Barcelona dan PSG. Dua klub yang selalu merajai disetiap negaranya masing-masing dan dipertemukan disatu lapangan yang sama secara tidak sengaja, tanpa ada rekayasa dari pihak manapun. 

Leg pertama Barcelona bertandang ke basecamp PSG dan mengalami kekalahan telak, 4 tiang rumah secara enteng. Dengan posisi agregat 4-0.

Euforia PSG sangat membabi buta, para pendukung membuat pesta besar-besaran karena menganggap kemungkinan Barcelona mengejar ketertinggalan sangaaaaatt kecil. Dengan poin 4, mereka (PSG) tidak ikut pertandingan di leg keduapun kemenangan sudah menghampirinya, lah wong (nggak main) dapat 3 poin sedangkan mereka sudah punya 4 poin.

“Bro, mau nonton apa?”
“Barca vs PSG bro”
“Bahahaha… Mau lihat kekalahan telak lagi?”
“Aish…”
“Jangan ngarep terlalu tinggilah, bahaha”

Mungkin itu sedikit percakapan bersama sohib ane semalam sebelum menonton laga pertandingannya yang menyakitkan buat dirinya selama turun-temurun.

Meme-meme bermunculan, entah itu dari pendukung klub sebelah sampai para penduduk di negeri yang sukanya basa-basi dan buat hoax, apalagi kalau bukan sosial media. Ditambah saat-saat ini manusia sangat susah untuk lepas dengan yang namanya media sosial. 

Anak-anak kecil sudah megang HP plus Internetnya, lebih hafal lagu cinta dari pada lagu Indonesia Pusaka yang dibawakan Shanna Shannom. 

Mau kemana negeri ini berlabu, kalau generasi mudanya sudah seperti itu. Mau dibawah kemana tulisan ini kalau yang dibahas lari dari judul. Oke back to topic, itu hanya sedikit curhatan anak kepala dua ini. Dari pada curhat, lebih baik ane berharap dapat sepeda dari Pak Jokowi, biar bias buat Komunitas Sepeda Presiden. Ngayaal leek!!!

Lanjut…

Secara profesional dan mungkin ingin memberikan pukulan telak lagi kepada Barcelona, PSG mengikuti  lanjutan liga yang bergengsi di benua Eropa tersebut. PSG bertandang ke basecamp Barcelona, Camp Nou, 9 Maret lalu waktu Spanyol.

Permainan baru berlangsung 2 menit, lah gol pertama tercipta. Gol dilesakkan dengan sundulan kepala berbulunya Suarez, itu sebagai salam penyambutan untuk PSG. Gol Barcelona selanjutnya diciptakan “gol bunuh diri” Kurzawa, Pinalti Messi, tendangan bebas 7 hari 7 malam yang sangat cantik na apik oleh Neymar, Suarez dijagal dalam kotak dan Neymar sebagai algojo, dan terakhir jemputan manis kaki Roberto yang berasal dari asis Neymar menjadikan Barcelona menang telak dan menang agregat. 

Selama hampir 95 menit permainan ditayangkan lewat TV swasta. Sulit ditebak, Barcelona menang telak 6-1. Dengan gol penutup Sergio Roberto menjadikan Barcelona mampu melenggang santai ke per-8 besar Liga Champion, sekaligus Roberto banyak di sanjung-sanjung oleh warga Barcelona sebagai pahlawan untuk kemenagan Tim kebanggan mereka.

Bayangkan, dimenit terakhir, posisi agregat 5-1. Ter Stegan kipper Barcelona naik sampai dibibir kotak gawang, itu tandanya mau nggak mau, suka nggak suka, serangan balik nggak serangan balik, mending naik. 

Ketika Neymar melesakkan tendangan luar kotak sebagai asis, Roberto dengan sangat mudah menjemput si kulit bundar tersebut dan melesakkan ke gawang Trap, GOOOLLL!!! Dengan satu sentuhan, Roberto membawa Barcelona memenangi pertandingan. Menit terakhir loh, apa nggak nyesek tuh.

Dengan itu posisi agregat 6-5. Terserah anda mau menganggap Roberto sebagai pahlawan atau tidak, wong itu pendapatmu, yo terserah.

Dalam pertandingan itu ane hanya menekankan, jangan terlalu menganggap remeh hal-hal yang terlihat kecil. Karena kita tidak mengetahui apa power terbesar yang dimilikinya. 

Dengan sangat enteng dan mesem-mesem, ane ngomong.

"Piye bro? Nyesek ora?"

Jangan terlalu seriuslah bacanya.

Comments

Popular posts from this blog

Dua Puluh Dua Desember

Fajar yang terlihat jelas dari sela jendela kamar, kemilau cahayanya membuat suasana yang tadi dingin oleh tetesan embun menjadi hangat, ah ternyata embun itu sudah menyatu dengan udara. Pagi ini sangat indah, tak ada mendung yang menyelimuti, semoga hari ini hati bersahabat. Aku mengintip dari balik jendela kamar terlihat daun-daun pepohonan yang ada dihalaman mulai berjatuhan ditanah. Beberapa ekor ayam yang sedang mencari secuil rezekinya dibalik dedaunan dengan penuh semangat. Hati ini terasa damai. "Ibu" Wajahmu secara cepat teringat dibenakku, kusingkapkan selimut yang sedari tadi menempel dengan lembut ditubuhku. Iya, usai subuhan tadi kantukku tak tertahan lagi sampai lupa matahari sudah setinggi jengkal menyinari bumi. Kucoba meraih sebuah album kecil yang baru beberapa bulan dicetak, sengaja aku cetak dua foto setiap foto, satu untuk ibu satu untukku. Foto dibalik layar Hp tak seindah foto yang ada dalam album, rasanya bergerak dan hidup, lupakan itu hanya...

Senja Dipenghujung Tahun

Foto: pecintasendja Senja, aku harap kamu tidak melupakan hari ini. Karena senja hari ini adalah penyambung senja esok hari. Senja, cahayamu hari ini sangat lembut membuat suasana hati penghuni bumi ini bahagia. Senja, jangan malu-malu untuk selalu menampakkan kelembutannmu. Karena, cahayamu memberikan kekuatan kepada malam. Senja, aku harap besok kamu kembali lagi dengan suasana yang baru. Karena aku selalu butuh suasana baru. Senja, jangan bosan-bosan sinari penduduk bumi. Karena sinarmu adalah sebuah pengharapan. Senja, terimakasih tentang ceritamu hari ini. Aku akan tetap menunggu ceritamu nanti. Senja, terimakasih kamu telah meramaikan suasana sore dipenghujung tahun ini, semoga ditahun depan senjamu lebih banyak memancarkan keemasannya di ufuk barat. Sore ini adalah akhir cahaya keemasan lembutmu menyinari kotaku ditahun ini. Esok, jangan lupa untuk menampakkan cahaya lembut keemasanmu sebagai awal perkenalan ditahun yang baru.

Sahabat, Tuhan Lebih Sayang Kepadamu.

"Sahabat, kamu adalah lentera jalan yang melengkapi setiap perjalananku" Di tahun 2001, ada siswa baru masuk kekelas kami. Dia melengkapi meja yang telah kosong dideretan tengah. Jika dijelaskan dengan jelas, dia masih ikatan keluarga. Wajar saja, kelas ini di isi oleh sahabat sepermainan dari kecil. Kami hanya ber enam waktu itu dan ditambah dengan kedatangan satu murid baru. Tak ada siswa selain dari desa kami. Kampung damai kecil dipesisir pantai. Namanya Nur Safaria Zirun, kami semua memanggilnya Zia. Alasan anak itu masuk dikelas kami karena baru saja pindah dari sekolahnya diseberang pulau sana. Mulai dari main bareng, canda bareng. Kebersamaan kami mulai terbangun dengan rapih selama setahun. Tak sampai lulus bersama kami, hanya setahun dia mengenyam kebersamaan bersama kami, entah dia melanjutkan sekolah dikota mana, tak ada kabarpun. Bak hilang ditelan waktu. Aku dan yang lainnya tetap satu sekolah didesa yang sama, sekolah dikota waktu itu hanya...