Skip to main content

Kota Ini Masih Menjadi Primadona dan Selalu di Rindukan

Hallo sahabat-sahabatnya bang Noe, piye kabare lek? Apik yoo. Oh iya, ane kali ini ada masukan dari sahabat di twitter, ketika memposting tweet tentang kebingungan mau nulis apa alias mumet, eh ada sahabat ane yang baik hati ngasih masukan untuk nulis tentang Jogja, kok nggak kefikir ampe kesana yaah, padahal Jogja itu Kota yang wuenaak, wuamaan, wuapiikk meenn.

Berhubung matahari mulai panas, kopi udah ampir abis, makanan belum ada, siaran tv masih menyiarkan tentang kebhinekaan, kucing sudah mulai mengeong, kamar belum dibersihkan, badan belum juga mandi dari kemarin sore, motor belum dicuci, chat medsos belum dibaca, Barcelona Real Madrid semalam mainnya imbang suara kendaraan dijalan udah rame, Car Free Day udah mulai dari tadi, ane mulai cerita yaa...

Ane mencoba menceritakan tentang Jogja, dirunut dari abang mulai merantau di Kota ini. Kurang lebih tahun 2011 pertama dari perdananya abang mulai menginjak Kota Istimewa ini. Kota yang mana banyak menawarkan nilai-nilai budaya nya, Kota yang menawarkan akan keanekaragaman masyarakatnya, Kota yang menawarkan berbagai macam pendidikan dan intelektual. Kota Seni Budaya dan Kota Pelajar.

Kota seni dan budaya dimana kota ini menawarkan budaya yang masih tetap melekat kental di naluri jiwa masyarakatnya. Bangunan-bangunan masa penjajahan yang masih tetap berdiri kokoh, kerajinan-kerajinan tangan dari masyarakatnya, lantunan suara khas penyanyi-penyanyi Jogja yang menjadikan salah satu nilai seni yang ada dikota ini.

Just for your info beb, neng, ay, sebelum Negara kita ini merdeka Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai pemerintahan sendiri untuk mengatur sistem tata kota dan pemerintahannya yang dinamakan Zelfbestuurlandschappen atau disebut Daerah Swapraja yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman.

Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1755, sedangkan Kadipaten Pakualaman didirikan oleh Pangeran Notokusumo (Saudara Sultan Hamengku Buwono II) yang bergelar Adipati Paku Alam I pada tahun 1813.

Eksistensi kedua kerajaan tersebut sudah diakui oleh Internasional baik masa penjajahan Belanda, Inggris dan Jepang. Setalah para penjajah out, pergi, minggat, menjauh, kedua kerajaan tersebut sudah siap berdiri sendiri menjadi sebuah Negara lengkap dengan wilayah, masyarakata dan sistem pemerintahannya sendiri. Wuasik toh! Wuenak toh! Wuapik toh!

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus tahun 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Pakualaman VIII menyatakan kepada Presiden bahwa Dua Kerajaan tersebut, untuk bergabung menjadi satu kesatuan Negara Republik Indonesia yang dinyatakan sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Kepala Daerah dan Sri Pakualaman VIII sebagai Wakil nya dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Kalau sudah seperti ini Jogja gak Istimewa gimana lagi coba. Keren kan, makanya maenlah ke Jogja hehe.

Kota Pelajar, entah dari mana asal dua kata tersebut. Ane tidak terlalu mengetahui dengan jelas dan pasti siapa yang mencetuskan dan kenapa kok bisa dinamakan sebagai kota pelajar. Setahu ane sih kenapa kota ini dinamakan sebagai kota pelajar dikarenakan banyak sekali para pelajar yang datang dikota ini untuk menuntut ilmu.

Dari sabang sampai merauke semua ada disini, bermacan-macam golongan, budaya, agama, etnis bercampur menjadi satu dan belajar diberbagai macam Universitas Swasta dan Negeri, indahnya Negeri ini. Coba aja kita hitung bareng, jika setiap daerah membawa seni dan budayanya, ada berapa banyak coba ? Tak pelak dengan banyaknya mahasiswa/i yang ada dikota ini dapat membawa seni dan budaya dari daerah masing-masing dan menjadikan Jogja sebagai kota yang mempunyai berbagai macam seni budaya.

Oh iya ane hampir lupa, berbicara seni dan budaya kota ini memiliki beberap icon kota loh yang dapat menarik bagi siapa yang berkunjung dikota ini dan akan tetap merindukan kota ini. Diantaranya adalah hmmmm kasih tau gak ya ? Eits jangan ngambek dulu, sini neng deket abang, nnti abang bisikin. Yups...

Tugu Jogja digunakan sebagai lambang atau simbol pariwisata dikota ini. Didirikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Banyak sekali cerita tentang simbol ini, diantaranya dulu digunakan Sultan untuk menjadikan patokan arah menghadap ke Gunung Merapi. Dan masih banyak lagi, kalau kita ingin menggalinya.

Oh iya, setiap mereka yang berkungjung ke kota ini pasti mengenal icon satu ini. Ada ibarat mengatakan, jika ke Jogja belum melihat dan bertemu dengan Tugu Jogja berarti belum sah kalian berkunjung ke Jogja hehhe.

Selain Tugu Jogja ada lagi icon yang sangat melegendaris dan menarik yaitu Jl. Malioboro. Wuieehh gak usah ditanya lagi, bagi mereka yang telah berkungjung ke Jogja pasti tau dengan tempat ini.

Jalan Malioboro sangat terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas Jogja dan warung-warung lesehan di malam hari yang menjual makanan gudeg Jogja yang siap mengenyangkan perut kalian semua serta terkenal sebagai tempat berkumpulnya para seniman yang sering mengekpresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, pantomim, dan lain-lain di sepanjang jalan ini.
Dengan semua itu, Jogja menjadi salah satu destinasi yang sangat populer dikalangan para traveler, turis lokal dan luar untuk dijadikan salah satu kota tujuan (turis luar) jika berkunjung di Indonesia. Jadi tunggu apa lagi, persiapkan kesehatan, kejiwaan, kesukaan dan ke ke lainnya dan berkunjung lah ke Yogyakarta.

Eiittss jangan lupa yang satu ini penting banget, bawa sangu, duit, uang, fulus, odoi, biar gak kek orang ilang disini hahaha dan satu lagi jika ingin ke Jogja dan tidak tahu mau kemana, hubungi ane aja Insha Allah kalo gak sibuk abang anterin deh hehehe...

Oke, mungkin itu aja ya sedikit tulisan ane tentang Jogja, dan masih banyak lagi yang belum diceritain, nanti di episode selanjutnya deh...

Comments

Popular posts from this blog

Dua Puluh Dua Desember

Fajar yang terlihat jelas dari sela jendela kamar, kemilau cahayanya membuat suasana yang tadi dingin oleh tetesan embun menjadi hangat, ah ternyata embun itu sudah menyatu dengan udara. Pagi ini sangat indah, tak ada mendung yang menyelimuti, semoga hari ini hati bersahabat. Aku mengintip dari balik jendela kamar terlihat daun-daun pepohonan yang ada dihalaman mulai berjatuhan ditanah. Beberapa ekor ayam yang sedang mencari secuil rezekinya dibalik dedaunan dengan penuh semangat. Hati ini terasa damai. "Ibu" Wajahmu secara cepat teringat dibenakku, kusingkapkan selimut yang sedari tadi menempel dengan lembut ditubuhku. Iya, usai subuhan tadi kantukku tak tertahan lagi sampai lupa matahari sudah setinggi jengkal menyinari bumi. Kucoba meraih sebuah album kecil yang baru beberapa bulan dicetak, sengaja aku cetak dua foto setiap foto, satu untuk ibu satu untukku. Foto dibalik layar Hp tak seindah foto yang ada dalam album, rasanya bergerak dan hidup, lupakan itu hanya...

Senja Dipenghujung Tahun

Foto: pecintasendja Senja, aku harap kamu tidak melupakan hari ini. Karena senja hari ini adalah penyambung senja esok hari. Senja, cahayamu hari ini sangat lembut membuat suasana hati penghuni bumi ini bahagia. Senja, jangan malu-malu untuk selalu menampakkan kelembutannmu. Karena, cahayamu memberikan kekuatan kepada malam. Senja, aku harap besok kamu kembali lagi dengan suasana yang baru. Karena aku selalu butuh suasana baru. Senja, jangan bosan-bosan sinari penduduk bumi. Karena sinarmu adalah sebuah pengharapan. Senja, terimakasih tentang ceritamu hari ini. Aku akan tetap menunggu ceritamu nanti. Senja, terimakasih kamu telah meramaikan suasana sore dipenghujung tahun ini, semoga ditahun depan senjamu lebih banyak memancarkan keemasannya di ufuk barat. Sore ini adalah akhir cahaya keemasan lembutmu menyinari kotaku ditahun ini. Esok, jangan lupa untuk menampakkan cahaya lembut keemasanmu sebagai awal perkenalan ditahun yang baru.

Sahabat, Tuhan Lebih Sayang Kepadamu.

"Sahabat, kamu adalah lentera jalan yang melengkapi setiap perjalananku" Di tahun 2001, ada siswa baru masuk kekelas kami. Dia melengkapi meja yang telah kosong dideretan tengah. Jika dijelaskan dengan jelas, dia masih ikatan keluarga. Wajar saja, kelas ini di isi oleh sahabat sepermainan dari kecil. Kami hanya ber enam waktu itu dan ditambah dengan kedatangan satu murid baru. Tak ada siswa selain dari desa kami. Kampung damai kecil dipesisir pantai. Namanya Nur Safaria Zirun, kami semua memanggilnya Zia. Alasan anak itu masuk dikelas kami karena baru saja pindah dari sekolahnya diseberang pulau sana. Mulai dari main bareng, canda bareng. Kebersamaan kami mulai terbangun dengan rapih selama setahun. Tak sampai lulus bersama kami, hanya setahun dia mengenyam kebersamaan bersama kami, entah dia melanjutkan sekolah dikota mana, tak ada kabarpun. Bak hilang ditelan waktu. Aku dan yang lainnya tetap satu sekolah didesa yang sama, sekolah dikota waktu itu hanya...