Skip to main content

Si Jurnalis Kece di Acara Dies Natalis STTNAS

"Wow" mungkin itu satu kata perwakilan dari Ane ketika ngikutin Seminar Jurnalistik yang diadain oleh STTNAS Yogyakarta hari sabtu kemarin. Seminar biasa mah banyak diselenggarakan oleh pihak-pihak lainnya, tapi kali ini Jurnalis dari Men's Obsession dan National Geographic Indonesia yang jadi narasumbernya, apa nggak gendeng tuh.

"Ente dari mana bro?"
"Oh tadi, abis ngikutin seminar di STTNAS bro"
"Narsum nya siape?"
"Jurnalis Men's Obsession ama..."
"Eh... Gilaaak lu, keren banget, nape nggak ngajak Gue"
"Maafkeun... heuheu"

Itu sedikit chit chat kecil ketika bertemu sohib Ane di warung kopi.

Tahukan Men's Obsession? Itu loh, majalah gaya hidup inspiratif yang menampilkan profil para tokoh-tokoh terkemuka. Ibaratnya tuh, majalah masa kini.

Pertama kali Ane dapat informasi seminarnya kalo nggak salah nemu di Instagram, trus Ane capture gambarnya dan langsung cus sms. Nomor yang tertera Mbak Atik sebagai panitia. Seminar yang kek gini yang Ane cari dari dulu. Yang bawain anak muda, manis lagi orangnya, ahaayy..

Difoto itu tertera sedikit profil narasumbernya diantaranya Copy Writer Freelance, Jurnalis Men's Obsession dan Juara 1 Lomba Menulis Rene Furterer.

Sesuai jadwal yang ada, Ane datang di tkp sebelum mulai, karena prinsip Ane "lebih baik nunggu sejam dari pada dateng tepat waktu" seeett daaahh...

Sayang disayang, ternyata molor hampir dua jam cooyy... Alhasil Ane kek ikan asin yang udah dijemur seminggu, kering dikursi.

Panitianya pasti sengaja buat jadwal kepagian dikit, nggak mungkin seorang jurnalis molor ampe segitunya. Ane tahu itu, It's ok! Kali ini Ane maklumi para panitianya mungkin ketika nulis jadwalnya belum pada ngopi, heuheu. Tapi, thanks loh buat para panitia yang udah ngadain seminar kek gini, tjakep.

Dalam sesi seminar nasional kemarin, ada dua narasumber yang pertama Mbak Giattri Fachbrillian Putri jurnalis Men's Obsession dan kedua Bang Feri Latief sebagai Kontributor National Geographic (tulisan Bang Feri, nyusuull)

Aduuh yang bikin nggak enak suasana tuh pembawa acara dan moderatornya, masih kurang menjiwai padahal yang dimoderatori ini orang-orang keceeeh abis, mungkin perlu belajar lagi, hehehe.

Nanti kesempatan lain bolehlah Ane bantuin, mungkin bisa bantuin jadi operator laptop Mbak Gia.

Ketika Mbak Gia naik kepanggung, pertanyaan Ane pertama, orangnya yang ini? Ternyata beda ama foto ya, aslinya cantik, manis dan kalem, hahazeeek!!!

Penampilannya yang casual, pembawaannya yang ramah, posturnya yang aduhai menggoda para kaum adam yang melihatnya, dan yang paling utama adalah pengalamannya yang terbilang joosss di dunia tulis menulis.

Diawali dengan meralat pernyataan moderator, si Juri (moderator) yang Ane denger dari Mbak Gia. Entah siapa namanya, lupa.

"Nah, tadi namanya Mas Juri ya? Mas Juri tadi bilang saya ahli jurnalistik ya? Saya mau meralat, saya bukan seorang ahli jurnalistik. Saya hanya seorang praktisi saja, mungkin kawan-kawan didepan saya ini tulisannya lebih bagus dari saya"

Diawal pembicaraanya aja sudah sangat merendah cooyy, apalagi kalo ngikuti ampe akhir dan tidak sombong juga loh, contoh kecilnya instagram Ane difolback kok ama Mbak Gia, hahazeek.

Dalam seminarnya yang hampir dua jam lebih itu , Mbak Gia membawakannya secara kalem, ringan, santun dan senyumnya itu loh yang bikin klepek-klepek ketua umum mapala Gapadri, peace Bang Piniel hehehe.

Alhamdulillah, banyak sekali point-point dan pembelajaran yang Ane tangkap dari seminar yang dibawaian oleh Mbak Gia diantaranya

"Menulis itu bukan bakat yang turun dari langit begitu saja tapi kemampuan yang terus menerus kita latih, belajar dan belajar nanti pasti akan ketemu selanya"

"Tugas seorang travel jurnalis adalah bisa mengamati merasakan hal-hal kecil disekitar kita"

"Jangan pernah meniru gaya tulisan seseorang, tidak akan berkembang dan akan menetap disitu saja, cari karakteristik sendiri"

Nah, yang terakhir tuh, sampai saat ini Ane masih aja niru dikit-dikit gaya tulisan orang lain, hehehe.

Itu sebagain yang Ane tangkep dalam diskusi kecil yang dibawain Mbak Gia kemarin dan masih banyak lagi.

Oh iya, kemarin Ane sempat jadi volunteer yang diajukan Mbak Gia, saking panglingnya ama sosok wanita kece itu, Ane nggak ngeeh arahan yang dijelaskan, heeeeeuuu.

Para volunteer diberikan satu potongan kertas koran kecil, tugasnya untuk membuat satu kalimat secara spontan dengan mengambil 10 kata dalam sobekan koran tadi dan menyusunnya menjadikan kalimat yang enak dibaca. Alhasil tulisan Ane ngawurr blaasss, heuheu.

Untuk hadiah rangkaian tulisan ngasal tadi, Mbak Gia memberikan deadline kepada para volunteer untuk menulis satu tulisan tentang travel jurnalis didaerah masing-masing dan akan ditayangin di portal medianya, tulisannya masih otw mbak, semoga bisa ditayangin ya, hahazeek.

Diakhir acara ketika sesi pertanyaan, Ane mengajukan dua pertanyaan.

Pertama "Mbak Gia ini kan travel jurnalis, paling jauh ketika traveling kemana?"

"Saya treveling paling jauh ke Bengkulu. Oh iya, menjadi seorang travel jurnalis tidak melulu harus ketempat yang jauh terus disebut sebagai travel jurnalis, nggak. Karena kemanapun kita pergi, ketika kita mampu menuliskan hal-hal yang kita temui, itu tandanya kita bisa disebut travel jurnalis. Memang, lebih baiknya kita pergi ketempat yang jauh agar dapat membandingkan dengan tempat yang lain."

Kedua "Pengalaman wawancara seperti apa yang paling greget ketika Mbak Gia menjadi seorang jurnalis?"

"Saya waktu itu tiba-tiba harus mewawancarai Alex Nourdin, Gubernur Sumatera Selatan. Ketika itu saya tidak memiliki persiapan yang matang karena dadakan, dan itu pengalaman yang paling buruk juga sih. Makanya, siapapun narasumbernya, persiapan itu lebih penting"

Overall, Ane berterimakasih banyak kepada semua pihak yang telah mengadakan seminar seperti ini dan tidak lupa untuk Mbak Gia, semoga makin sukses dalam karir jurnalisnya, Ane tunggu cerita dan pengalaman Mbak Gia selanjutnya. Dan do'ain semoga Ane bisa jadi jurnalis hebat kek Mbak Gia. Thanks

Comments

  1. Cantik juga itu cewe, udah punya suami belum ya dia? Hehe

    ReplyDelete
  2. Kalo lihat IG nya, keknya belum nikah bang, gih dikejar... Hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Dua Puluh Dua Desember

Fajar yang terlihat jelas dari sela jendela kamar, kemilau cahayanya membuat suasana yang tadi dingin oleh tetesan embun menjadi hangat, ah ternyata embun itu sudah menyatu dengan udara. Pagi ini sangat indah, tak ada mendung yang menyelimuti, semoga hari ini hati bersahabat. Aku mengintip dari balik jendela kamar terlihat daun-daun pepohonan yang ada dihalaman mulai berjatuhan ditanah. Beberapa ekor ayam yang sedang mencari secuil rezekinya dibalik dedaunan dengan penuh semangat. Hati ini terasa damai. "Ibu" Wajahmu secara cepat teringat dibenakku, kusingkapkan selimut yang sedari tadi menempel dengan lembut ditubuhku. Iya, usai subuhan tadi kantukku tak tertahan lagi sampai lupa matahari sudah setinggi jengkal menyinari bumi. Kucoba meraih sebuah album kecil yang baru beberapa bulan dicetak, sengaja aku cetak dua foto setiap foto, satu untuk ibu satu untukku. Foto dibalik layar Hp tak seindah foto yang ada dalam album, rasanya bergerak dan hidup, lupakan itu hanya...

Senja Dipenghujung Tahun

Foto: pecintasendja Senja, aku harap kamu tidak melupakan hari ini. Karena senja hari ini adalah penyambung senja esok hari. Senja, cahayamu hari ini sangat lembut membuat suasana hati penghuni bumi ini bahagia. Senja, jangan malu-malu untuk selalu menampakkan kelembutannmu. Karena, cahayamu memberikan kekuatan kepada malam. Senja, aku harap besok kamu kembali lagi dengan suasana yang baru. Karena aku selalu butuh suasana baru. Senja, jangan bosan-bosan sinari penduduk bumi. Karena sinarmu adalah sebuah pengharapan. Senja, terimakasih tentang ceritamu hari ini. Aku akan tetap menunggu ceritamu nanti. Senja, terimakasih kamu telah meramaikan suasana sore dipenghujung tahun ini, semoga ditahun depan senjamu lebih banyak memancarkan keemasannya di ufuk barat. Sore ini adalah akhir cahaya keemasan lembutmu menyinari kotaku ditahun ini. Esok, jangan lupa untuk menampakkan cahaya lembut keemasanmu sebagai awal perkenalan ditahun yang baru.

Sahabat, Tuhan Lebih Sayang Kepadamu.

"Sahabat, kamu adalah lentera jalan yang melengkapi setiap perjalananku" Di tahun 2001, ada siswa baru masuk kekelas kami. Dia melengkapi meja yang telah kosong dideretan tengah. Jika dijelaskan dengan jelas, dia masih ikatan keluarga. Wajar saja, kelas ini di isi oleh sahabat sepermainan dari kecil. Kami hanya ber enam waktu itu dan ditambah dengan kedatangan satu murid baru. Tak ada siswa selain dari desa kami. Kampung damai kecil dipesisir pantai. Namanya Nur Safaria Zirun, kami semua memanggilnya Zia. Alasan anak itu masuk dikelas kami karena baru saja pindah dari sekolahnya diseberang pulau sana. Mulai dari main bareng, canda bareng. Kebersamaan kami mulai terbangun dengan rapih selama setahun. Tak sampai lulus bersama kami, hanya setahun dia mengenyam kebersamaan bersama kami, entah dia melanjutkan sekolah dikota mana, tak ada kabarpun. Bak hilang ditelan waktu. Aku dan yang lainnya tetap satu sekolah didesa yang sama, sekolah dikota waktu itu hanya...