Skip to main content

Cerita Rakyat: "Ketika Biaya Kuliah Melambung Tinggi"


Toro dan Tere adalah sepasang sahabat yang lama tinggal bersama. Sejak kecil mereka sudah diparnerkan dalam persahabatan. Suka duka pun mereka lalui bersama. Sekolah dari SD sampe SMA pun mereka selalu disandingkan. Saat ini mereka akan menempuh kuliah. Walaupun bersama sejak kecil, ternyata cita-cita mereka berbeda.

Toro ingin berkuliah di bidang Pertanian sedangkan Tere ingin di bidang Politik. Mereka memiliki motifasi masing-masing dalam menentukan masa depannya, walaupun mereka bersama sejak kecil tak menuntut kemungkinan masa depan mereka harus sama juga.

"Rencana mau ngambil apa lo Ro?" Tanya Tere

"Gue pengen ngambil jurusan Politik, nah lo apaan?" jawab Toro dengan nada bertanya.

"Gue pengen ngambil Pertanian Re" Ujar Toro

"Okelah, tapi..." Ujar Tere

"Kampusnya bareeng" Ujar Toro dengan nada sentakan

"Mantaaaap, gue suka gaya lo" Celetuk Tere

Setelah kelulusan sekolah mereka tercintah, brosur-brosur kampus pun ramai berseliweran disekitaran sekolah mereka. Dari yang bergengsi sampai yang tingkat bawah. Nilai mereka tidak bisa terdeteksi di Universitas Negeri. Setelah melakukan banyak seleksi dari lembaran-lembaran.

Mereka telah menentukan satu Kampus yang cocok dan akan mereka tinggali untuk beberapa tahun kedepan. Universitas Masyarakat Kelas Bawah (UMKB). Salah satu Universitas Swasta yang katanya bergengsi dikalangan masyarakat kelas bawah.

Mereka hidup dikalangan orang-orang biasa saja, kaya sangat jauh dari mereka dan miskin melarat hampir mendekatinya.

"Waaah paraah... Biaya kuliahnya kok mahal banget" Celetuk Tere sambil gerata-gerutu menyusuri lorong tempat pendaftaran. "Gimana dong ne Ro"

"Lo nggak pernah denger bu guru pernah ngomong, kalau pengen kuliah yo mesti pinter ama kaya" Ujar Toro. "Kalo pinter bisa ngejar beasiswa, kalo kaya yo terserah mau ngapain"

"Trus, gimana dong buat yang miskin ditambah lagi bego?" Celetuk Tere.

"Ada jalan satu-satunya" Kata Toro dengan nada mesem.

"Apaan?"

"Sambil kerja" Ujar Toro sekali lagi dengan rasa percaya diri.
"Ide lu mantep banget Ro" Celetuk Tere sambil merasa bangga menemukan jalan pintas.

Dengan hati senang dan bahagia mereka pun berjalan menyusuri lorong pendaftaran sambil bergurau "Lu pinter kalo masalah ide, kok masalah pelajaran sama aja ama gue Ro? Mau kerja apa kita Ro?". Mereka pun hilang dibalik cahaya matahari yang menyinari lorong pendaftaran.

Comments

Popular posts from this blog

Dua Puluh Dua Desember

Fajar yang terlihat jelas dari sela jendela kamar, kemilau cahayanya membuat suasana yang tadi dingin oleh tetesan embun menjadi hangat, ah ternyata embun itu sudah menyatu dengan udara. Pagi ini sangat indah, tak ada mendung yang menyelimuti, semoga hari ini hati bersahabat. Aku mengintip dari balik jendela kamar terlihat daun-daun pepohonan yang ada dihalaman mulai berjatuhan ditanah. Beberapa ekor ayam yang sedang mencari secuil rezekinya dibalik dedaunan dengan penuh semangat. Hati ini terasa damai. "Ibu" Wajahmu secara cepat teringat dibenakku, kusingkapkan selimut yang sedari tadi menempel dengan lembut ditubuhku. Iya, usai subuhan tadi kantukku tak tertahan lagi sampai lupa matahari sudah setinggi jengkal menyinari bumi. Kucoba meraih sebuah album kecil yang baru beberapa bulan dicetak, sengaja aku cetak dua foto setiap foto, satu untuk ibu satu untukku. Foto dibalik layar Hp tak seindah foto yang ada dalam album, rasanya bergerak dan hidup, lupakan itu hanya...

Senja Dipenghujung Tahun

Foto: pecintasendja Senja, aku harap kamu tidak melupakan hari ini. Karena senja hari ini adalah penyambung senja esok hari. Senja, cahayamu hari ini sangat lembut membuat suasana hati penghuni bumi ini bahagia. Senja, jangan malu-malu untuk selalu menampakkan kelembutannmu. Karena, cahayamu memberikan kekuatan kepada malam. Senja, aku harap besok kamu kembali lagi dengan suasana yang baru. Karena aku selalu butuh suasana baru. Senja, jangan bosan-bosan sinari penduduk bumi. Karena sinarmu adalah sebuah pengharapan. Senja, terimakasih tentang ceritamu hari ini. Aku akan tetap menunggu ceritamu nanti. Senja, terimakasih kamu telah meramaikan suasana sore dipenghujung tahun ini, semoga ditahun depan senjamu lebih banyak memancarkan keemasannya di ufuk barat. Sore ini adalah akhir cahaya keemasan lembutmu menyinari kotaku ditahun ini. Esok, jangan lupa untuk menampakkan cahaya lembut keemasanmu sebagai awal perkenalan ditahun yang baru.

Sahabat, Tuhan Lebih Sayang Kepadamu.

"Sahabat, kamu adalah lentera jalan yang melengkapi setiap perjalananku" Di tahun 2001, ada siswa baru masuk kekelas kami. Dia melengkapi meja yang telah kosong dideretan tengah. Jika dijelaskan dengan jelas, dia masih ikatan keluarga. Wajar saja, kelas ini di isi oleh sahabat sepermainan dari kecil. Kami hanya ber enam waktu itu dan ditambah dengan kedatangan satu murid baru. Tak ada siswa selain dari desa kami. Kampung damai kecil dipesisir pantai. Namanya Nur Safaria Zirun, kami semua memanggilnya Zia. Alasan anak itu masuk dikelas kami karena baru saja pindah dari sekolahnya diseberang pulau sana. Mulai dari main bareng, canda bareng. Kebersamaan kami mulai terbangun dengan rapih selama setahun. Tak sampai lulus bersama kami, hanya setahun dia mengenyam kebersamaan bersama kami, entah dia melanjutkan sekolah dikota mana, tak ada kabarpun. Bak hilang ditelan waktu. Aku dan yang lainnya tetap satu sekolah didesa yang sama, sekolah dikota waktu itu hanya...