Toro dan Tere adalah sepasang sahabat yang lama tinggal bersama. Sejak kecil mereka sudah diparnerkan dalam persahabatan. Suka duka pun mereka lalui bersama. Sekolah dari SD sampe SMA pun mereka selalu disandingkan. Saat ini mereka akan menempuh kuliah. Walaupun bersama sejak kecil, ternyata cita-cita mereka berbeda.
Toro ingin berkuliah di bidang Pertanian sedangkan Tere ingin di bidang Politik. Mereka memiliki motifasi masing-masing dalam menentukan masa depannya, walaupun mereka bersama sejak kecil tak menuntut kemungkinan masa depan mereka harus sama juga.
"Rencana mau ngambil apa lo Ro?" Tanya Tere
"Gue pengen ngambil jurusan Politik, nah lo apaan?" jawab Toro dengan nada bertanya.
"Gue pengen ngambil Pertanian Re" Ujar Toro
"Okelah, tapi..." Ujar Tere
"Kampusnya bareeng" Ujar Toro dengan nada sentakan
"Mantaaaap, gue suka gaya lo" Celetuk Tere
Setelah kelulusan sekolah mereka tercintah, brosur-brosur kampus pun ramai berseliweran disekitaran sekolah mereka. Dari yang bergengsi sampai yang tingkat bawah. Nilai mereka tidak bisa terdeteksi di Universitas Negeri. Setelah melakukan banyak seleksi dari lembaran-lembaran.
Mereka telah menentukan satu Kampus yang cocok dan akan mereka tinggali untuk beberapa tahun kedepan. Universitas Masyarakat Kelas Bawah (UMKB). Salah satu Universitas Swasta yang katanya bergengsi dikalangan masyarakat kelas bawah.
Mereka hidup dikalangan orang-orang biasa saja, kaya sangat jauh dari mereka dan miskin melarat hampir mendekatinya.
"Waaah paraah... Biaya kuliahnya kok mahal banget" Celetuk Tere sambil gerata-gerutu menyusuri lorong tempat pendaftaran. "Gimana dong ne Ro"
"Lo nggak pernah denger bu guru pernah ngomong, kalau pengen kuliah yo mesti pinter ama kaya" Ujar Toro. "Kalo pinter bisa ngejar beasiswa, kalo kaya yo terserah mau ngapain"
"Trus, gimana dong buat yang miskin ditambah lagi bego?" Celetuk Tere.
"Ada jalan satu-satunya" Kata Toro dengan nada mesem.
"Apaan?"
"Sambil kerja" Ujar Toro sekali lagi dengan rasa percaya diri.
"Ide lu mantep banget Ro" Celetuk Tere sambil merasa bangga menemukan jalan pintas.
Dengan hati senang dan bahagia mereka pun berjalan menyusuri lorong pendaftaran sambil bergurau "Lu pinter kalo masalah ide, kok masalah pelajaran sama aja ama gue Ro? Mau kerja apa kita Ro?". Mereka pun hilang dibalik cahaya matahari yang menyinari lorong pendaftaran.

Comments
Post a Comment