Skip to main content

Cerita Rakyat: "Toro dan Tere Bertemu Ikhsan Skuter"

Foto by Matholhe
Persoaalan biaya kuliah masih menjadi polemik mereka berdua, kerja belum menjadi jalan satu-satunya. Antara kerja dan mengejar beasiswa. Otak mereka memang tidak masuk dalam kategori penerima, tapi keberuntungan selalu berada dipihak mereka.

Mereka pernah mendapatkan keberuntungan yang semua orang tidak bisa mengira. Suatu hari mereka pernah mengikuti lomba bulu tangkis antar sekolah. Soal olahraga mungkin mereka jagonya.

Ketika itu babak penyisihan pertama, entah keberuntungan atau tidak, lawan main mereka tidak datang karena sakit. Akhirnya mereka naik kebabak selanjutnya, walaupun kalah telak dipermainan itu.

Keberuntungan lainnya, mereka pernah diam-diam mencoret-coret sekolah sebagai aksi dari penolakan keterlambatan "10 menit minimal keterlabatan". Mereka tidak mendukung itu, menganggap guru membatasi hak asasi tidur manusia. Mereka berempat yang mencoret-coret dinding.

Entah keberuntungan atau tidak, mereka tidak kedapatan hari itu. Tapi besoknya mereka ketahuan juga, dua temannya tidak ingin disalahkan sendiri, akhirnya mereka dilaporin juga. Terserah itu menurut anda suatu keberuntungan atau tidak, tapi anggapan Toro dan Tere itu suatu keberuntungan yang nyata.

Bisa saja beasiswa menjadi satu keberuntungan yang menguntungkan bagi mereka, karena positif thinking itu lebih baik dari pada tidak punya pemikiran. Hari ini mereka ingin bertemu dengan bang Ikhsan Skuter. Rencana mereka kuliah ternyata sudah banyak yang mengetahuinya, tak terkecuali Ikhsan Skuter sebagai penggiat di RT mereka.

"Semleikum Bang" Sahut mereka berdua dengan nada kompak.

"Yee... Kumsalam" Ujar Ikshan. "Masuk lu bedua tong"

"Iye bang"

"Mau minum apa? Kopi? Teh? Susu?" tanya Ikshan dengan logatnya yang khas.

"Yang berwarna aja deh Bang" Ujar Tere dengan nada sok manis.

"Yaudah, air putih aja yee" Ujar Ikhsan sambil membenarkan sarungnya

"Iye bang, manutlah kita" Ujar mereka berdua dengan nada kekunyuk-kunyukan.

"Oh iye tong, denger-denger lu bedua pengen lanjut kuliah?" Tanya Ikhsan sambil meyakinkan.

"Iye bang, rencananya sih gitu" Ujar Toro. "Ya tapi kuliahnya mahal bang"

"Bahahaha..." Ujar Ikhsan dengan tertawa lebar. "Eh tong, lu kira kuliah murah? Lu nggak lihat gue, dulu cita-cita ingin jadi dokter gigi, karena sppnya mahal, gue banting stir jadi penggiat di RT, lebih berguna, bisa potong hewan Qurban juga bisa jadei satpam"

Sambil membenarkan duduknya, Ikhsan kembali menasehati dua bocah tengik yang ada didepannya.

"Gini Tong, gue bukan ingin meredupkan semangat lu bedua dalam keinginan berkuliah. Kejadian seperti yang lu bedua alami itu semua orang mengalami. Orang-orang tua diluar sana juga lagi galau soal ini. Bahwa, kampus saat ini bukan lagi sesuatu yang mudah dijangkau, karena harganya semakin mahal. Saat ini ilmu dan pendidikan seolah-olah diperjualbelikan. Sehingga ada bahkan sampai ratusan juta hanya untuk sebuah ilmu. Kampus seakan menjadi ladang bisnis baru dan itu bagiku tidak sehat dan saya mengeritik itu. Karena ilmu idealnya harus bisa dijangkau lah, apalagi kampus-kampus negeri yang sangat mahal, gimana swasta? Pengalaman kampusku dulu yang sangat mahal. Tapi apapun itu bentuknya, selagi bisa dan mampu lanjutkan perjuangan kalian. Niat lu bedua harus selalu dikobarkan. Karena ilmu itu penting bagi kedepannya"

Sambil mangut-mangut, mereka menikmati air putih yang terasa ada manis-manisnya kalo diminum secara terpaksa. Dan pemebicaraan sore itupun mereka lanjutkan dengan suka cita.

Comments

Popular posts from this blog

Dua Puluh Dua Desember

Fajar yang terlihat jelas dari sela jendela kamar, kemilau cahayanya membuat suasana yang tadi dingin oleh tetesan embun menjadi hangat, ah ternyata embun itu sudah menyatu dengan udara. Pagi ini sangat indah, tak ada mendung yang menyelimuti, semoga hari ini hati bersahabat. Aku mengintip dari balik jendela kamar terlihat daun-daun pepohonan yang ada dihalaman mulai berjatuhan ditanah. Beberapa ekor ayam yang sedang mencari secuil rezekinya dibalik dedaunan dengan penuh semangat. Hati ini terasa damai. "Ibu" Wajahmu secara cepat teringat dibenakku, kusingkapkan selimut yang sedari tadi menempel dengan lembut ditubuhku. Iya, usai subuhan tadi kantukku tak tertahan lagi sampai lupa matahari sudah setinggi jengkal menyinari bumi. Kucoba meraih sebuah album kecil yang baru beberapa bulan dicetak, sengaja aku cetak dua foto setiap foto, satu untuk ibu satu untukku. Foto dibalik layar Hp tak seindah foto yang ada dalam album, rasanya bergerak dan hidup, lupakan itu hanya...

Senja Dipenghujung Tahun

Foto: pecintasendja Senja, aku harap kamu tidak melupakan hari ini. Karena senja hari ini adalah penyambung senja esok hari. Senja, cahayamu hari ini sangat lembut membuat suasana hati penghuni bumi ini bahagia. Senja, jangan malu-malu untuk selalu menampakkan kelembutannmu. Karena, cahayamu memberikan kekuatan kepada malam. Senja, aku harap besok kamu kembali lagi dengan suasana yang baru. Karena aku selalu butuh suasana baru. Senja, jangan bosan-bosan sinari penduduk bumi. Karena sinarmu adalah sebuah pengharapan. Senja, terimakasih tentang ceritamu hari ini. Aku akan tetap menunggu ceritamu nanti. Senja, terimakasih kamu telah meramaikan suasana sore dipenghujung tahun ini, semoga ditahun depan senjamu lebih banyak memancarkan keemasannya di ufuk barat. Sore ini adalah akhir cahaya keemasan lembutmu menyinari kotaku ditahun ini. Esok, jangan lupa untuk menampakkan cahaya lembut keemasanmu sebagai awal perkenalan ditahun yang baru.

Sahabat, Tuhan Lebih Sayang Kepadamu.

"Sahabat, kamu adalah lentera jalan yang melengkapi setiap perjalananku" Di tahun 2001, ada siswa baru masuk kekelas kami. Dia melengkapi meja yang telah kosong dideretan tengah. Jika dijelaskan dengan jelas, dia masih ikatan keluarga. Wajar saja, kelas ini di isi oleh sahabat sepermainan dari kecil. Kami hanya ber enam waktu itu dan ditambah dengan kedatangan satu murid baru. Tak ada siswa selain dari desa kami. Kampung damai kecil dipesisir pantai. Namanya Nur Safaria Zirun, kami semua memanggilnya Zia. Alasan anak itu masuk dikelas kami karena baru saja pindah dari sekolahnya diseberang pulau sana. Mulai dari main bareng, canda bareng. Kebersamaan kami mulai terbangun dengan rapih selama setahun. Tak sampai lulus bersama kami, hanya setahun dia mengenyam kebersamaan bersama kami, entah dia melanjutkan sekolah dikota mana, tak ada kabarpun. Bak hilang ditelan waktu. Aku dan yang lainnya tetap satu sekolah didesa yang sama, sekolah dikota waktu itu hanya...