Throw Back!
Ane kali ini akan menceritakan awal mula kenapa belakangan ini senang banget naik-naik kepuncak gunung, tinggi-tinggi sekali. #huwazeek
Aslinya anak pantai, lahir dipesisir pantai, besar dengan air laut, makan dengan hasil laut, yo mesti hobinya juga main di pantai. Makanya dulu sebelum Ane dikenalin dengan gunung, alergi dengan kata naik gunung. Difikiran itu ketika temen-temen kampus ngajakin naik gunung atau ketika kumpul hanya membahas tentang gunung, naik gunung itu cuman bikin capek, panas, haus mending tinggal dikosan tidur dengan nyenyak. #huwalah
Setiap pebicaraan tentang gunung, An alihkan ke pembicaraan soal pantai, ketika ada acara kelas Ane nomer satu yang milihnya main kepantai walaupun banyak yang ngusulin maen kegunung atau ngecamp ke tempat lain.
Awal mula mencoba naik ke gunung, kurang lebih awal tahun 2015 waktu itu ada teman kelas yang sempat ngomong ke abang "sekali-kali cobalah maen ke gunung, jangan pantai mulu" Ane pun jawab dengan enteng, "enggak". Tetapi setelah difikir-fikir, kenapa gak dicoba. Setelah paksaan yang membabi-buta datang bertubi-tubi, ana oke in nyoba maen ke gunung, sekalian nyari-nyari pengalaman baru. Kami pun mengatur rencana, akomodasi, peralatan dan lain sebagainya sampai menentukan gunung mana yang harus didaki.
Gunung Merapi yang terletak di antara Provinsi DI Yogykarta dan Jawa Tengah, itu adalah gunung pertama yang abang taklukin.
Just for your info guys, Gunung Merapi (ketinggian puncak 2.930 mdpl, per 2010) adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak tahun 2004.
Gunung ini sangat berbahaya karena menurut catatan modern mengalami erupsi (puncak keaktifan) setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh permukiman yang sangat padat. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali. Kota Magelang dan Kota Yogyakarta adalah kota besar terdekat, berjarak di bawah 30 km dari puncaknya. Di lerengnya masih terdapat permukiman sampai ketinggian 1700 M dan hanya berjarak empat kilometer dari puncak. Oleh karena tingkat kepentingannya ini, Merapi menjadi salah satu dari enam belas gunung api dunia yang termasuk dalam proyek Gunung Api Dekade ini (Decade Volcanoes).
Oke semuanya sudah tahu dan ngerti kan Gunung Merapi ? Oke, kita lanjut lagi!
Dengan niat yang baik tanpa ada neko-neko, kami semua pun berangkat menuju jalur pendakian Selo, yang terletak di disebelah utara gunung merapi. Kalau Ane nggak salah hitung kurang lebih 12 orang yang berangkat waktu itu.
Ketika diperjalanan menuju basecamp pendakian merapi, ada teman Ane yang mengalami kecelakaan kecil, terjatuh dari motor. Jalan menuju selo memang sangat parah, parah abis, dari jalannya yang berkelok-kelok sampai jalan yang penuh dengan kerikil-kerikil pasir yang bertebaran dijalanan.
Kamipun sempat terfikir untuk tidak melanjutkan perjalanan ke tujuan dan kembali ke Jogja, apakah mungkin ini pertanda kalau kami tidak diperbolehkan untuk naik kepuncak merapi. Setelah berbincang sejenak, kamipun sepakat untuk melanjutkan perjalanan, temen yang kecelakaan ngomong kalau dia tidak apa-apa hanya luka kecil saja, dan kamipun melanjutkan perjalanan.
Setiba kami semuanya dengan selamat di basecamp merapi, semuanya beristirahat sejenak, sholat dzuhur dan makan siang itu pilihan yang tepat. Ada yang sibuk makan, rebahan, foto-foto, dan abang tetap makan nomor satu.
Berbicara soal makan, Ane belom ngisi perut dari tadi. Ane makan dulu, baru lanjut lagi yoo...
15 Menit kemudian...
Mari kita lanjut, perut sudah terisi dengan full injection, waktunya bercerita dimulai...
Persiapan sudah klik semuanya, waktunya konsentrasi untuk mendaki gunung. Jam telah menunjukkan pukul 13:00 Perjalanan pun dimulai, eh... Baru beberapa meter dari basecamp sudah mulai terasa capeknya, udah mulai ngeluh, tapi tetap lanjut.
Pendakian gunung merapi memang sangat ekstrim bagi pemula seperti Ane gini, tidak ada suasana landai dalam pendakian. Sepanjang jalan menuju puncak, trek jalannya full penanjakan sampai di Pasar Bubrah (pos terakhir sebelum puncak). Setiba kami semuanya di Pasar Bubrah kurang lebih jam 17:30. Berharap mendapatkan Sunset di Pasar Bubrah, tetapi matahari cepat sekali berlalu meninggalkan kami diatas gunung berapi dengan kegelapan.
Inisiatif untuk mendirikan tenda dipasar bubrah adalah ide yang sangat cemerlang, dimana angin dan gerimis sejenak membasahi pasar bubrah membasahi kami semuanya. Suasananya sangat dingin, air panas secepat mungkin berubah cepat menjadi air es. Bersembunyi didalam tenda dibalut dengan Sleeping Bag (SB) dan jaket tebal adalah pilihan yang tepat.
Ketika jam telah menunjukkan jam 04:00 subuh, alarm berbunyi bercampur suasana dingin yang menusuk sampai didasar hati yang paling dalam membangunkan kami semua dari pekatnya malam. Agar terasa hangat, kopi dan beberapa batang rokok adalah jalan terbaik untuk menghangatkan badan dalam suasana seperti ini. Beberapa teman yang cowok satu persatu keluar dari tenda untuk mencari kehangatan (jangan porno, nyari kopi doang). Dan yang cewek masih saja berkutat dengan selimut tebal didalam tenda.
Dengan satu komando dari leader kami si Bob jam 05:00 tepat semuanya beranjak menuju puncak, waktu tempuh kurang lebih 1 jam sampai puncak dengan santai, tenang dan perlahan. Sunrise pun perlahan menampakkan jati dirinya dengan hangat menerangi bumi yang sedari tadi pekat ditelan oleh malam. Perlahan puncak merapi terlihat dari bawah, pucuk, pucuk, pucuk...
Taraaaaaa... Puncak telah kami injak diatas ketinggian 2930 mdpl. Alhamdulillah setelah berjam-jam berjalan, bonus dari tujuan yang dituju telah tercapai. Karena hakikat dalam pendakian tujuan yang utama adalah kembali dengan selamat tanpa kurang apapun dan puncak hanya salah satu bonus dalam pendakian.
Sungguh indah ciptaan mu Tuhan, dari ketinggian ini kami semua terasa sangat kecil, masih pantaskah diriku untuk angkuh dan sombong ?
Setelah saat itu Ane mulai senang dengan yang namanya mendaki gunung, tapi tidak bisa dipungkiri, sejauh manapun Ane melangkah tetap akan kembali ke tempat pijakan pertama yaitu PANTAI. Pantai sudah menjadi satu sejarah kehidupan. Pantai tidak dapat terpisahkan oleh mereka yang telah dibesarkan dari pesisir pantai, makanan pantai, udara pantai dan pasir pantai. Anak pantai tetaplah anak pantai. Tetap berpasir, salam Anak Pantai...
Inilah kami, dari ketinggian 2930 mdpl kami sampaikan salam untuk Indonesia. Salam kami : Ruben, Akid, Nita, Angga, Gufron, Rahmat, Izza, Bob, Bang Noe, Adi, Nisa dan Tsani. Berbeda-beda suku, daerah, pulau dan bahasa tapi kami tetap satu tujuan.
Mungkin ini saja yang dapat Ane ceritakan. Sebenarnya dan sesungguhnya masih banyak cerita Dikarenakan Ane mulai lelah nulis, nanti kapan-kapan diceritain lagi ya... See You All, jangan lupa minum air putih sebelum tidur, baik untuk aliran darah. Bye...


Comments
Post a Comment