Skip to main content

Pendakian Gunung Lawu "Seven Summits of Java"

Pada kesempatan kali ini Ane akan berbagi cerita lagi, tentang perjalanan ke gunung yang katanya angker dan penuh mistis. Yups... Gunung Lawu, yang berada diantara dua Provinsi yaitu Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah yang menjadi salah satu Seven Summits of Java (7 Puncak Tertinggi Pulau Jawa) dengan ketinggian 3265 MDPL. Banyak cerita yang menggambarkan kalau Gunung Lawu adalah gunung paling angker dan mistis di Indonesia sebab menyembunyikan 'jati dirinya'.

Bagi masyarakat sekitar, Lawu seolah 'bernyawa' dan tidak sembarangan orang diterima oleh gunung itu. Tetapi kali ini Ane gak akan menceritakan tentang kemistisan dan lain sebagainya, Ane hanya pengen berbagi pengalaman maen kesana.

Langsung saja tanpa basa basi dan komentarisasi lainnya, sek... ta nyalain rokoknya dulu biar asek ceritanya. Ok, lanjut!

Tanggal 7 November 2016

Pagi itu, Ane menerima pesan pribadi dari teman kampung yang sedang kuliah di Bandung namanya Aldi, katanya ngajakin muncak ke gunung Semeru. #huwalaah dadakan. Ane udah ngasih tau ke dia tunggu seminggu dulu buat nabung-nabung soalnya berbicara gunung semeru juga berbicara tentang keuangan, minimal duit ditangan sejutaan kalau tujuan muncaknya ke semeru. Kemudian temen Ane pun manut aja soalnya dia udah nabung dari kemarin-kemarin jadi cukuplah buat dia sendiri kalau ke semeru.

Tanggal 14 November 2016

Ketika semingguan lewat, si Diapun ngabarin lagi untuk memastikan perjalanan ke semeru. Tapi kenyataannya pun nggak mampu Ane sanggupi kemauannya. Yaudah kita berinisiatif untuk mendaki ke gunung yang tidak terlalu banyak memakan biaya.

Setelah berbincang lama lewat telefon, Ane menyuruhnya untuk ke Jogja aja dulu, nanti kita diskusiin mau hendak kemana kaki kita melangka. #huwazeek

Temen Ane pun langsung memesan tiket keesokan harinya dengan tujuan ke Jogja.

Tanggal 18 November 2016

Setelah sampai di Stasiun Tugu Jogja, abis asharan Ane menjemputnya ke stasiun Tugu. Sebelum sampai dkosan, kami berdua mampir untuk mengisi perut sejenak sambil membicarakan apa yang harus dibicarkan diatas meja makan angkringan. Setelah makan dan berbincang sedikit, kami sepakat untuk melangkahkan kaki di puncak Gunung Lawu yang terletak di Karanganyar.

Setelah makan kami pun beranjak untuk mencari peralatan muncak, maklum Ane belum punya peralatan, cuman ada jaket ama carer doang dikosan.

Peralatan semua sudah siap, niat sudah siap, tinggal personil aja belum lengkap, boyband aja berlima masa kita cuman berdua. #huwazeek

Monggo yang belum mengisi perut, dimakan dulu makanannya dan jangan lupa minum air putih biar tambah sehat. Lanjut!

Tanggal 19 November 2016

Lengkap sudah personilnya, jadi yang berangkat ke Lawu semuanya teman kampung yang sedang merantau. Ane sendiri, Aldi (si Anak Perawat), Dika (si Mahasiswa Baru), Fadhil (si Jurnalis), dan Riskan (si Tertua kami) semuanya anak-anak sekampung.

Kami pun lanjut menuju kereta karena kami tidak mempunyai kendaran lengkap jadi jalan satu-satunya mesti pete-pete (angkutan putus nyambung). Perjalanan pertama menuju Stasiun Lempuyangan dan mengambil kereta jurusan Solo, kereta Prameks dengan harga Rp.8000 udah bisa nyampe Solo. Jam 12:25 keretanya berangkat dan kami sampai distasiun Solo Balapan jam 13:45 Setelah sampai di stasiun Solo Balapan kami menuju terminal Tirtonadi dan mencari Bus yang menuju Tawangmangu.

Sambil menunggu satu orang lagi, kami berinisiatif untuk masuk kedalam terminal untuk mengisi perut yang kosong.

Kurang lebih sejam kami didalam terminal dan bertemulah dengan satu teman sekampung lagi yang berencana ikut kami ke Gunung Lawu, namanya Mato ( si Anak Perawat jurusan Photography). Lengkap sudah perjalanan kami Six Climber Son of Beach (Enam Pendaki Anak Pantai) #huwazeek.

Jam 16:00 tepat, kami menumpang bus yang menuju Tawangmangu Dengan biaya Rp.15.000 per kepala dan mulai melanjutkan perjalanan. Dikarenakan supir busnya terlalu lambat mengendarinya busnya supaya baik jalannya dan dicampur dengan penumpang emak-emak ngerumpi didalam bus akhirnya kami semua tiba di Tawangmangu jam 18:00 lebih, yang tadinya ekspektasi kami hanya sejaman tapi faktanya kurang lebih 2 jam perjalan. Lumayan lama!

Kami pun berberes, sholat dan mempersiapkan apa yang perlu dipersiapkan, berhubung air minum belum kami beli, sekalianlah kami persiapkan. oke, beres semuanya!

Dari Tawangmangu jalan satu-satunya untuk menuju basecamp yaitu dengan mencarter mobil yang ada diterminal Tawangmangu dengan harga Rp.25.000 per orang, karena bus yang kami tumpangi dari Tirtonadi hanya mengantarkan kami sampai ke terminal Tawangmangu aja.

Tapi kalau pergi seorang diri atau berdua boleh juga kok tapi nunggu full mobilnya dulu, biar bisa langsung pak sopirnya tancap gas.
Ada beberapa basecamp Penajakan Puncak Gunung Lawu diantaranya Cemoro Kandang, Cemoro Sewu, Candi Cetho dan kami memilih Cemoro Sewu yang lumayan singkat perjalanannya dari yang lainnya, menurut abang sih gitu #huwazek.

Tiba di basecamp Cemoro sewu kurang lebih jam 19:00, suasananya dingin-dingin gimana gitu. Kami sejenak meneduh ke penjual kopi sambil membeli tiket masuk, Rp.15.000 per kepala.

Jam 20:00 tepat kami semua langsung menjajal pendakian menuju puncak. Penanjakan Gunung Lawu via Cemoro Sewu keseluruhan treknya sudah disusun batu gunung, agar para pendaki tidak salah arah. Kurang lebih 3 jam perjalanan kami sampai di pos 3 karena si Dika sudah tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan kami berinisiatif untuk mendirikan tenda di pos 3, tapi tidak cukup untuk tenda kami karena sudah dipenuhi oleh pendaki lainnya. Kami pun beristirahat dan akan melanjutkan pendakian ketika subuh hari.

Tanggal 20 November 2016

Ternyata semuanya terlambat bangun, matahari sudah lumayan tinggi. Dan kami pun langsung memulai pendakian menuju puncak Hargo Dumilah dengan meninggalkan Dika yang masih tertidur pulas, semalem dia ngomong gak mau ikut sampai kepuncak jadinya kami tidak membangunkannya.
Diperjalanan kami bertemu dengan Tante Meri dkk pendaki dari Surabaya tapi asli sedaerah dengan kami semua, dan pembicaraan pun nyambung.

Sampai di Pos 5 kami beristirahat sambil menyantap pecel Gunung Lawu yang sangat nikmat dam setelah itu melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Jam 10:30 kami semua sampai di puncak Hargo Dumilah dan bersantai-santai sambil ngopi-ngopi di puncak "Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Kamu Dustakan".
Kurang lebih 2 jam kami di puncak dan jam 12:30 kami semua turun kembali ke pos 3 untuk beristirahat dan makan siang. Jam 15:00 kami turun menuju basecamp, diperjalanan kami istirahat di pos bayangan setelah pos 1. Jam 17:00 kami turun menuju basecamp, diperjalanan langit mulai gelap dan sampai dibasecamp jam 18:00 lebih.

Ternyata angkutan ke terminal Tawangmangu sudah tidak ada lagi, jalan satu-satunya mencarter mobil yang kemarin kami tumpangi dari Tawangmangu untuk mengantarkan kami ke terminal Tirtonadi, Solo. Setelah negoisasi dapatlah kami dengan harga Rp. 300.000 untuk kami semua. Kurang lebih 2 jam perjalanan sampai ke stasiun Tirtonadi, Solo. Kami berpisah, Mato menuju Semarang, Ane dan yang lainnya menuju Jogja. Jam 24:00 tepat kami berlima sampai di Jogja dan beristirahat.

Ini hanya cerita dan pengalaman ane ketika mendaki Gunung Lawu, kalau ada kesalahan dalam penulisan mohon dimaafkan ya guys....

Comments

Popular posts from this blog

Dua Puluh Dua Desember

Fajar yang terlihat jelas dari sela jendela kamar, kemilau cahayanya membuat suasana yang tadi dingin oleh tetesan embun menjadi hangat, ah ternyata embun itu sudah menyatu dengan udara. Pagi ini sangat indah, tak ada mendung yang menyelimuti, semoga hari ini hati bersahabat. Aku mengintip dari balik jendela kamar terlihat daun-daun pepohonan yang ada dihalaman mulai berjatuhan ditanah. Beberapa ekor ayam yang sedang mencari secuil rezekinya dibalik dedaunan dengan penuh semangat. Hati ini terasa damai. "Ibu" Wajahmu secara cepat teringat dibenakku, kusingkapkan selimut yang sedari tadi menempel dengan lembut ditubuhku. Iya, usai subuhan tadi kantukku tak tertahan lagi sampai lupa matahari sudah setinggi jengkal menyinari bumi. Kucoba meraih sebuah album kecil yang baru beberapa bulan dicetak, sengaja aku cetak dua foto setiap foto, satu untuk ibu satu untukku. Foto dibalik layar Hp tak seindah foto yang ada dalam album, rasanya bergerak dan hidup, lupakan itu hanya...

Senja Dipenghujung Tahun

Foto: pecintasendja Senja, aku harap kamu tidak melupakan hari ini. Karena senja hari ini adalah penyambung senja esok hari. Senja, cahayamu hari ini sangat lembut membuat suasana hati penghuni bumi ini bahagia. Senja, jangan malu-malu untuk selalu menampakkan kelembutannmu. Karena, cahayamu memberikan kekuatan kepada malam. Senja, aku harap besok kamu kembali lagi dengan suasana yang baru. Karena aku selalu butuh suasana baru. Senja, jangan bosan-bosan sinari penduduk bumi. Karena sinarmu adalah sebuah pengharapan. Senja, terimakasih tentang ceritamu hari ini. Aku akan tetap menunggu ceritamu nanti. Senja, terimakasih kamu telah meramaikan suasana sore dipenghujung tahun ini, semoga ditahun depan senjamu lebih banyak memancarkan keemasannya di ufuk barat. Sore ini adalah akhir cahaya keemasan lembutmu menyinari kotaku ditahun ini. Esok, jangan lupa untuk menampakkan cahaya lembut keemasanmu sebagai awal perkenalan ditahun yang baru.

Sahabat, Tuhan Lebih Sayang Kepadamu.

"Sahabat, kamu adalah lentera jalan yang melengkapi setiap perjalananku" Di tahun 2001, ada siswa baru masuk kekelas kami. Dia melengkapi meja yang telah kosong dideretan tengah. Jika dijelaskan dengan jelas, dia masih ikatan keluarga. Wajar saja, kelas ini di isi oleh sahabat sepermainan dari kecil. Kami hanya ber enam waktu itu dan ditambah dengan kedatangan satu murid baru. Tak ada siswa selain dari desa kami. Kampung damai kecil dipesisir pantai. Namanya Nur Safaria Zirun, kami semua memanggilnya Zia. Alasan anak itu masuk dikelas kami karena baru saja pindah dari sekolahnya diseberang pulau sana. Mulai dari main bareng, canda bareng. Kebersamaan kami mulai terbangun dengan rapih selama setahun. Tak sampai lulus bersama kami, hanya setahun dia mengenyam kebersamaan bersama kami, entah dia melanjutkan sekolah dikota mana, tak ada kabarpun. Bak hilang ditelan waktu. Aku dan yang lainnya tetap satu sekolah didesa yang sama, sekolah dikota waktu itu hanya...