![]() |
| Gamelan Pusaka Kyai Sekati |
Ehem... Ketemu lagi, lagi-lagi ente. Jangan bosan-bosan ya berkunjung di blog bang noe ya. Dan maafkan ane kalau belum bisa nyuguhin tulisan yang baik dan benar ya, semua butuh proses dan tahapan :) dan ane masih mencari proses itu.
Kali ini tulisan ane masih lingkup Jogja aja, belum bisa jauh-jauh, mungkin masih jatuh cinta ama asyiknya Jogja kali ya...
Oke, ane mau nanya, ente-ente semua ada yang tahu Sekaten nggak ? Bagi yang berdomisili di Yogyakarta Insha Allah sudah pasti tahu.
Berbicara dari kaca mata Bang Noe, mungkin yang terlintas difikiran dari sebagian kita semua termasuk ane ketika mendengar kata Sekaten itu adalah sebuah pasar malam yang diadakan kurang lebih selama sebulan yang dipenuhi dengan hiburan, permainan, jajanan dan lain sebagainya. Hmmm sudah ane duga!
Kalau dirunut kebelakang banyak sekali sejarah yang menjelaskan pendapat tentang penafsiran dari kata Sekaten, kalau pendapat orang Jawa dulu ada kisah seorang Kyai Sekati pada zaman kerajaan Mataram yang memiliki benda pusaka yang dinamakan cempeti atau pecut (pemukul kuda) untuk memperingati kyai sekati diadakan lah Sekaten tersebut dengan ditandai pemukulan Gamelan Pusaka.
Diantara penafsirannya yang ane tahu dari menggali informasi sana-sini, Sekaten berasal dari kata sekati, yaitu nama dari dua perangkat gamelan pusaka Kraton Yogyakarta yang bernama Kanjeng Kyai Sekati yang ditabuh dalam rangkaian acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Penafsiran lainnya, mengatakan bahwa sekaten berasal dari kata Syahadatain, yang maksudnya dua kalimat syahadat yang diucapkan ketika seseorang hendak memeluk agama Islam didasari bahwa pada jaman dahulu upacara sekaten diselenggarakan untuk menyebarkan agama Islam.
![]() |
| Perangkat Gamelan Kanjeng Kyai Nagawilaga |
Dan sampai saat ini Sekaten diartikan sebagai Upacara Sakral untuk menyambut hari besar kelahiran Nabi Muhammad SAW yang ditandai dimulainnya upacara Sekaten tersebut dengan dikeluarkannya gamelan pusaka Kanjeng Kyai Sekati yang terdiri dari dua perangkat, yaitu Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga dari persemayamannya.
Pemukulan gamelan pusaka dilaksankan selama 7 hari 7 malam kecuali pada hari Kamis malam atau Malam Jumat hingga sehabis shalat Jumat. Setiap hari gamelan sekaten dibunyikan sebanyak tiga kali, yaitu pagi (pukul 08.00 – 11.00 WIB), siang (pukul 14.00 – 17.00 WIB), dan malam (pukul 20.00 – 23.00 WIB). Dari Kanjeng Kyai Guntur Madu kemudian Kanjeng Kyai Nagawilaga seperti itu terus secara bergantian.
Dan pada ada tanggal 11 Rabiulawal pukul 24.00 WIB dengan dipindahkannya gamelan pusaka Kanjeng Kyai Sekati kembali ke kraton, menandakan bahwa upacara sekaten telah selesai. Kurang lebih begitu lah!
Sampai sini, ente-ente semua udah faham kan ?
Jadi, Sekaten itu adalah acara atau upacara sakral yang sampai saat ini masih dibudayakan oleh Kesultanan Ngayogyakarta dan masyarakat Yogyakarta yang didalamnya diawali dan diakhiri dengan pemukulan gamelan selama 7 hari 7 malam dan ada hiburan bagi masyarakat dengan diadakannya Perayaan Pasar Malam Sekaten.
Dan acara puncaknya yaitu ketika tanggal 12 Rabiul Awwal yaitu Grebeg Mulud yang diadakan untuk memperingati hari besar kelahiran Nabi Muhammad SAW. Upacara Grebeg Mulud diawali dengan parade Prajurit-prajurit Keraton yang keluar dengan berpakaian lengkap dengan senjata khusus. Dan diakhir parade, ada sebuah Gunungan yang merupakan tumpukan makanan yang menyerupai Gunung yang selalu menjadi ciri khas dalam upacara Grebeg dibawa keluar dari Keraton.
Gunungan yang biasanya berbagai hasil bumi merupakan simbol kemakmuran Keraton Yogyakarta yang akan dibagikan nantinya kepada masyarakatnya. Gunungan akan dibawa menuju Alun-alun utara dan akan di doakan di masjid Gedhe Kauman. Setelah di doakan, Gunungan dapat dibagikan dan diperebutkan oleh masyarakat yang menonton acara Grebeg tersebut termasuk ente semua kalau hadiri acaranya.
Maka dari itu buat ente-ente yang berdomisili di Jogja dan sekitarnya, sekarang adalah waktunya untuk menikmati tradisi dan budaya yang masih melekat dimasyarakat saat ini, gitu bro! Gimana ? Nanti langsung ke Masjid Gedhe Kauman aja, masih ada waktu beberapa hari kok untuk menikmati Suara Gamelan Pusakanya.
Salam...


Bang noe, ada alamat yg bisa dihubungi?
ReplyDeleteSaya tertarik dengan tulisan anda.