Skip to main content

Jangan Pernah Mencoba Makanan Ini!

Tak lengkap rasanya jika berkunjung ke kota Malang tapi tidak mampir ke Batu. Saran ane jika ke Batu jangan lupa untuk bercinta sejenak ya, setidaknya ada yang bisa dikenang kalo udah balik kerumah.

Jangan ngeres dulu, bercinta yang ini bukan dengan yang seperti itu, berhubung blog ini isinya tentang traveling, untuk sesi bercinta kali ini dengan apa yang ane temui ketika dalam perjalanan dan bermanfaat buat yang lainnya, khususnya yang rela (terpaksa) baca blog yang nggak jelas ini.

Tahu Batu kan? Kayaknya nggak perlu lah ane jelasin, kayanya kalian paling faham. Ane nggak nyuruh kalian buat bercinta dengan Batu... Mau lo?

Setelah berkeliling ria seharian penuh, tak adil jika tak berkunjung ke Alun-Alun Kota Batu. Nggak kalah keren kok dengan kota lainnya. Terdapat bianglala atau kincir guede, ah terserahlah apa namanya, yang penting yang bisa muter-muter gitu kek dipasar malam.

Disepanjang jalan yang disediakan penuh dengan jajanan yang dijajakan warga sekitar. Dari yang biasa sampai yang luar biasa, ding. Ngomongin masalah jajanan, ada satu jajanan yang nggak kalah eksisnya didunia maya, apalagi kalau ente anak Instagramian, fesbukian, twiterian, frensterian, fegetarian, pasti taulah. What that ? *garuk sambil inget-inget*

Apa lagi kalau bukan Pos Ketan Legenda 1967 yang ada disebelah barat Alun-Alun. Namanya aja Legenda ditambah lahirnya tahun 1967, hitung aja kira-kira udah berapa tahun tuh ketan bertahan hidup dimuka bumi. Mungkin udah bisa punya anak 6.

Bakalan nyesel kalau ke Batu tapi nggak nyobain makanan yang satu itu, rasanya yang nyes-nyes, bikin rasa nambah lagi. Dengan perpaduan antara toping-toping bermacam rasa menyerbu para segerombolan biji-biji ketan yang terdiam kaku, jadilah ketan campur atau apalah. Lah, nyes-nyes itu apaaaa?!!! Nggak jelas banget ne orang nulisnya.

Menu legenda nya itu ketan susu durian, sepertia yang ane pesan, wuiihhh gilaaaaaakkk abiissss!!!

Setelah beberapa kali muterin tuh alun-alun akhirnya dapat juga parkiran, musim liburan emang banyak betul wisatawan yang berkunjung ketempat itu.

Tolong budayakan ngantri, karena bukan cuman ente aja yang pengen makan tuh ketan legend. Banyak yang rela ngantri, kalo dihitung-hitung bisa ngalahin anak kosan pergi kondangan yang ngantri salaman ke mempelai sambil nunggu giliran nyendok nasi dengan porsi kuli bangunan.

Soal harga lumayan murah kok dari harga Rp. 6.000-15.000, tergantung topingnya, mau yang pake durian atau biasa aja. Saran ane, kalian nyoba yang rasa durian deh, nyeeesss ngeeet...

Oh iya, kalau udah ngantri, mending belinya dibungkus aja, kalau makan di tkp disajiinnya lumayan lama sih, ane kemarin nunggu hampir setengah jam dan yang bungkus nggak cukup 5 menit, gondok nggak tuh? Tapi, setelah makan tuh ketan, gondoknya ganti geleng-geleng kepala.

Jangan pernah mencoba ketan ini kalo nggak bisa nahan nagihnya, jika ingin makan tuh ketan ente mesti ke  kota Batu, mungkin nggak ada cabangnya di kota lain. Tahu kan harga tiket pesawat antar pulau? hahaha...

Bagi ente yang hidupnya kek kelelawar keluyuran malam nggak jelas, pas banget tempat ini buat bersantai sekedar istirahatin sayap ente, buka dari sore hari jam 15:00 sampai dini hari jam 03:00, paling endes tuh datengnya ketika sore, sambil cuci mata mandangin suasana sekitar, weuenaak tenan reekk!!!

Ojo lali yooo....

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Dua Puluh Dua Desember

Fajar yang terlihat jelas dari sela jendela kamar, kemilau cahayanya membuat suasana yang tadi dingin oleh tetesan embun menjadi hangat, ah ternyata embun itu sudah menyatu dengan udara. Pagi ini sangat indah, tak ada mendung yang menyelimuti, semoga hari ini hati bersahabat. Aku mengintip dari balik jendela kamar terlihat daun-daun pepohonan yang ada dihalaman mulai berjatuhan ditanah. Beberapa ekor ayam yang sedang mencari secuil rezekinya dibalik dedaunan dengan penuh semangat. Hati ini terasa damai. "Ibu" Wajahmu secara cepat teringat dibenakku, kusingkapkan selimut yang sedari tadi menempel dengan lembut ditubuhku. Iya, usai subuhan tadi kantukku tak tertahan lagi sampai lupa matahari sudah setinggi jengkal menyinari bumi. Kucoba meraih sebuah album kecil yang baru beberapa bulan dicetak, sengaja aku cetak dua foto setiap foto, satu untuk ibu satu untukku. Foto dibalik layar Hp tak seindah foto yang ada dalam album, rasanya bergerak dan hidup, lupakan itu hanya...

Senja Dipenghujung Tahun

Foto: pecintasendja Senja, aku harap kamu tidak melupakan hari ini. Karena senja hari ini adalah penyambung senja esok hari. Senja, cahayamu hari ini sangat lembut membuat suasana hati penghuni bumi ini bahagia. Senja, jangan malu-malu untuk selalu menampakkan kelembutannmu. Karena, cahayamu memberikan kekuatan kepada malam. Senja, aku harap besok kamu kembali lagi dengan suasana yang baru. Karena aku selalu butuh suasana baru. Senja, jangan bosan-bosan sinari penduduk bumi. Karena sinarmu adalah sebuah pengharapan. Senja, terimakasih tentang ceritamu hari ini. Aku akan tetap menunggu ceritamu nanti. Senja, terimakasih kamu telah meramaikan suasana sore dipenghujung tahun ini, semoga ditahun depan senjamu lebih banyak memancarkan keemasannya di ufuk barat. Sore ini adalah akhir cahaya keemasan lembutmu menyinari kotaku ditahun ini. Esok, jangan lupa untuk menampakkan cahaya lembut keemasanmu sebagai awal perkenalan ditahun yang baru.

Sahabat, Tuhan Lebih Sayang Kepadamu.

"Sahabat, kamu adalah lentera jalan yang melengkapi setiap perjalananku" Di tahun 2001, ada siswa baru masuk kekelas kami. Dia melengkapi meja yang telah kosong dideretan tengah. Jika dijelaskan dengan jelas, dia masih ikatan keluarga. Wajar saja, kelas ini di isi oleh sahabat sepermainan dari kecil. Kami hanya ber enam waktu itu dan ditambah dengan kedatangan satu murid baru. Tak ada siswa selain dari desa kami. Kampung damai kecil dipesisir pantai. Namanya Nur Safaria Zirun, kami semua memanggilnya Zia. Alasan anak itu masuk dikelas kami karena baru saja pindah dari sekolahnya diseberang pulau sana. Mulai dari main bareng, canda bareng. Kebersamaan kami mulai terbangun dengan rapih selama setahun. Tak sampai lulus bersama kami, hanya setahun dia mengenyam kebersamaan bersama kami, entah dia melanjutkan sekolah dikota mana, tak ada kabarpun. Bak hilang ditelan waktu. Aku dan yang lainnya tetap satu sekolah didesa yang sama, sekolah dikota waktu itu hanya...