Skip to main content

Hati-Hati, Jangan Asal Berfoto Ria!

Ramainya pengunjung di tempat ini
"Seharusnya sisi-sisi tempat ini (Tugu Pal Putih Jogja) disterilkan dari para wisatawan"

Itu kalimat yang malam tadi ane diskusiin kepada kawan ketika sedang duduk santai ditepi trotoar jalan warung kopi yang ada disekitar Tugu. Bukannya kami melarang hanya sedikit menghimbau kepada wisatawan yang hanya sekedar duduk manis sambil berfoto ria ditempat itu.

Posisi Tugu Jogja itu sangat strategis dengan jalan raya, tepat berada ditengah-tengah perempatan besar dari timur ke barat, selatan ke utara. Dengan intensitas kendaraan yang terbilang ramai lalu-lalang.

Tidak ada yang salah dengan tempat itu (Tugu Pal Putih Jogja), yang ane salahin itu orang-orang yang berada pas disisi pinggir Tugu. Itu jalan raya, dimana banyak kendaraan lalu lalang melawatinya. Takutnya, ketika sedang asyik bercanda dengan temannya tiba-tiba aja gerak kesana kemari atau sedang asyik-asyik berfoto ria tak sadar kendaran yang berada dilampu merah beranjak mulai berjalan. Bisa fatal !!!

Belajar dari pengalaman sebelumnya, ane pernah sesekali berada ditempat itu duduk manis hanya sekedar melihat tugu dari dekat. Tiba-tiba saja ada kendaraan roda dua dari arah timur melaju kencang (menghindari lampu merah), sontak membuat pengunjung yang sedang berdiri pas dipinggir tugu kaget, hampir saja tertabrak kalau saja motor itu tidak secara spontan membelokkan arahnya agak kepinggir. Fataaal !

Alhasil, dengan nada kesal, pria yang mengendarai motor tersebut berhenti sejenak dan marah kepada pengunjung tadi dengan teriakan yang kurang wajar.

Kasus seperti ini nggak bisa kita salahkan satu pihak saja, kalau dari kesadaran masyarakat nya saja kurang. Entah sudah ada larangan atau belum, yang terpenting kelakuan masyarakatnya yang paling utama, walaupun ada peraturan kalau masyarakatnya nggak sadar-sadar, yo podo wae (ya sama aja).

Apa tidak cukup kalau hanya untuk sekedar berfoto ria dengan berdiri dipelataran trotoar yang sudah dibuat secara apik dan menarik. Sebelah selatan tugu sejajar dengan pos polisi ane rasa tempat yang strategis untuk mengambil moment foto bersama Tugu Jogja. Tak perlu harus kepinggir pas Tugu segala.

Toh kalaupun penuh, disetiap sisi trotoar lainnya juga masih bisa. Mending seperti itu dari pada harus bertaruh kecelakan, apa nunggu kejadian dulu baru timbul kesadaran ? Naudzubillah, ane yakin tidak perlu. Sayangi keselamatan kita, ketimbang harus berfoto ria namun berakibat fatal.

Tak perlu tunggu aturan, jika itu tidak baik mari kita sama-sama tinggalkan. Masih banyak hal-hal (baik) lain yang perlu dilakukan. Kalau tidak ada, sini ane kasih kerjaan biar ente bisa ngelakuin hal baik *just kid bro :D*

Intinya ane nggak melarang (ane juga sering, dulu) jika ingin tetap berada ditempat itu, cukup berhati-hati. Jangan kebanyakan gaya, gerak sana gerak sini dan juga bagi siapa saja yang mengendarai kendaraannya melintas ditempat itu, harap berhati-hati, jika perlu kendaraannya jangan dipacu dengan cepat, agar tidak terjadi apa yang tidak diinginkan.

Oke Bro ?

Comments

Popular posts from this blog

Dua Puluh Dua Desember

Fajar yang terlihat jelas dari sela jendela kamar, kemilau cahayanya membuat suasana yang tadi dingin oleh tetesan embun menjadi hangat, ah ternyata embun itu sudah menyatu dengan udara. Pagi ini sangat indah, tak ada mendung yang menyelimuti, semoga hari ini hati bersahabat. Aku mengintip dari balik jendela kamar terlihat daun-daun pepohonan yang ada dihalaman mulai berjatuhan ditanah. Beberapa ekor ayam yang sedang mencari secuil rezekinya dibalik dedaunan dengan penuh semangat. Hati ini terasa damai. "Ibu" Wajahmu secara cepat teringat dibenakku, kusingkapkan selimut yang sedari tadi menempel dengan lembut ditubuhku. Iya, usai subuhan tadi kantukku tak tertahan lagi sampai lupa matahari sudah setinggi jengkal menyinari bumi. Kucoba meraih sebuah album kecil yang baru beberapa bulan dicetak, sengaja aku cetak dua foto setiap foto, satu untuk ibu satu untukku. Foto dibalik layar Hp tak seindah foto yang ada dalam album, rasanya bergerak dan hidup, lupakan itu hanya...

Senja Dipenghujung Tahun

Foto: pecintasendja Senja, aku harap kamu tidak melupakan hari ini. Karena senja hari ini adalah penyambung senja esok hari. Senja, cahayamu hari ini sangat lembut membuat suasana hati penghuni bumi ini bahagia. Senja, jangan malu-malu untuk selalu menampakkan kelembutannmu. Karena, cahayamu memberikan kekuatan kepada malam. Senja, aku harap besok kamu kembali lagi dengan suasana yang baru. Karena aku selalu butuh suasana baru. Senja, jangan bosan-bosan sinari penduduk bumi. Karena sinarmu adalah sebuah pengharapan. Senja, terimakasih tentang ceritamu hari ini. Aku akan tetap menunggu ceritamu nanti. Senja, terimakasih kamu telah meramaikan suasana sore dipenghujung tahun ini, semoga ditahun depan senjamu lebih banyak memancarkan keemasannya di ufuk barat. Sore ini adalah akhir cahaya keemasan lembutmu menyinari kotaku ditahun ini. Esok, jangan lupa untuk menampakkan cahaya lembut keemasanmu sebagai awal perkenalan ditahun yang baru.

Sahabat, Tuhan Lebih Sayang Kepadamu.

"Sahabat, kamu adalah lentera jalan yang melengkapi setiap perjalananku" Di tahun 2001, ada siswa baru masuk kekelas kami. Dia melengkapi meja yang telah kosong dideretan tengah. Jika dijelaskan dengan jelas, dia masih ikatan keluarga. Wajar saja, kelas ini di isi oleh sahabat sepermainan dari kecil. Kami hanya ber enam waktu itu dan ditambah dengan kedatangan satu murid baru. Tak ada siswa selain dari desa kami. Kampung damai kecil dipesisir pantai. Namanya Nur Safaria Zirun, kami semua memanggilnya Zia. Alasan anak itu masuk dikelas kami karena baru saja pindah dari sekolahnya diseberang pulau sana. Mulai dari main bareng, canda bareng. Kebersamaan kami mulai terbangun dengan rapih selama setahun. Tak sampai lulus bersama kami, hanya setahun dia mengenyam kebersamaan bersama kami, entah dia melanjutkan sekolah dikota mana, tak ada kabarpun. Bak hilang ditelan waktu. Aku dan yang lainnya tetap satu sekolah didesa yang sama, sekolah dikota waktu itu hanya...