Zaman dengan sangat mudah berkembang biak dengan sangat pesat, dunia tekhnologi salah satunya. Apalagi di Indonesia, jangan ditanya lagi.
Social media contohnya, dapat membuat orang menjadi gemilang secara cepat dan instan tapi dilain pihak dapat menjadikan orang menjadi terpuruk sepuruk-puruknya.
Sudah banyak contohnya disekitar kita. Yang tadinya hanya seorang penjual makanan bisa jadi publik figur, dan masih banyak lagi. Itu semua berkat tekhnologi saat ini.
Ketika ane akan menulis tentang ini, rasa-rasanya kurang pas aja, bukannya ane nggak bisa, hanya saja sampai saat ini info yang ane dapat belum sepenuhnya sesuai dengan apa yang ane inginkan. Masih kurang, tapi ane mencoba untuk berimajinasi lebih dari biasanya dengan hal yang ane alami selama ini.
Tulisan ane saat ini lingkup pekerjaan sosial yang ada dikehidupan masyarakat yaitu tukang ojek, ane rasa semua tahu kan siapa, apa, bagaimana itu tukang ojek.
Dahulu kala, sebelum tekhnologi membabi buta masuk ke Indonesia yang namanya tukang ojek tradisional itu terlihat sangat sejahtera sekali. Dimana-mana pasti ada. Bisa disebut kendaraan yang paling tepat bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan atau sekedar ingin ketempat tujuan tanpa bermacet-macet ria.
Seiring berkembangnya zaman tersebut, muncul saingan pasar tukang ojek tradisonal yang telah lama merajai pasar angkutan umum kendaraan roda dua yaitu tukang ojek online. Kata tradisional diganti dengan online, tugasnya sama sebagai tukang ojek.
Mungkin hakikat diciptakan ojek online tidak lain dan tidak bukan hanya ingin mempermudah masyarakat untuk mengakses kendaraan tersebut. Dulu jika ingin menggunakan jasa ojek mesti kepangkalan dulu baru bisa menenemukan, saat ini hanya dengan menggunakan hp akses ojek sudah sangat mudah untuk menghampiri (jemput bola gitu) plus lumayan murah juga sih.
Kemunculannya nggak semudah itu diterima oleh kalangan ojek tradisional, membuat kontroversi yang berkepanjangan diantara dua pihak tersebut. Tapi saat ini, sudah aman kok asal nggak menyalahi aturan yang telah disepakati bersama.
Salah satu aturannya ialah tempat mangkal mereka disekitaran stasiun kereta. Pas depan stasiun adalah lahan ojek tradisional dan ojek online bertempat disisi timur dan barat stasiun. Dengan itu masing-masing haknya terpenuhi.
Mungkin timbul dibenak ente semua, kenapa ane mengangkat tulisan ini ?
Sudah beberapa kali ane alami kejadian-kejadian yang tak enak hati untuk disaksikan. Ada yang menggelitik dihati jika tidak secepatnya untuk menulis tentang ini.
Akhir-akhir ini ane sering ke stasiun kereta sekedar menjemput teman dan sanak keluarga yang datang kesini berlibur. Tukang ojek tradisional sangat banyak parkir didepan stasiun untuk menunggu penumpang yang akan memakai jasanya, begitu pula ojek online yang berada dilahan yang telah ditentukan.
Ketika para penumpang keluar dari stasiun, dengan sigap mereka (ojek tradisional) menawarkan jasanya kepada siapapun penumpang kereta yang keluar. Dengan penglihatanku para penumpang menolak untuk menggunakan tawaran tersebut, mereka lebih memilih berjalan beberapa meter untuk menumpang ke ojek online, padahal mereka (ojek online) tidak menawarkan sebagaimana yang dilakukan oleh ojek tradisional.
Entah apa alasan para penumpang lebih memilih sikap seperti itu, ane merasa kasihan aja. Itu menurut penglihatanku ketika berada disana, tapi mungkin saja setelah itu berbeda suasana ketika ane nggak berada ditempat itu. Hari selanjutnya ane kesana lagi, pemandangan yang sama itu terjadi lagi.
Selalu timbul pertanyaan, atas dasar apa para penumpang menolak ? Apa ada yang salah ? Kejadian seperti itu bukan ane saja yang alami, terkadang cerita dari teman seperti itu yang mereka alami.
Jika keadaan seperti itu terus menerus, bagaimana penghasilan mereka (ojek tradisional) untuk memenuhi kehidupan keluarganya ? Dengan kejadian seperti itu, selalu timbul pertanyaan dibenak ane.
Kenapa mereka (ojek tradisional) tidak menjadi tukang ojek online juga ?
Ya, kalaupun mereka ingin tetap jadi tukang ojek tradisional, mereka bisa melepas peralatan ojek online untuk sementara waktu, jika penghasilan berkurang silahkan dikenakkan lagi peralatan onlinenya agar penghasilan mereka seimbang. Ini hanya sekedar tanggapan dari ane aja ya.
Dan mohon maaf yang sebesar-besarnya jika tulisan ane mungkin dapat menyinggung salah satu pihak, ane nggak ada maksud apa-apa hanya ingin mencari solusi dari pemikiran ane aja yang akhir-akhir ini kurang peka dengan keadaan sekitar.
Oh iya, tulisan ini belum sepenuhnya rampung, jika dari ente-ente semua ingin menambahkan pendapat atau solusi dari tulisan ini agar terlihat jelas arahnya, monggo tumpahkan semua itu dikolom komentar, ane tunggu ya.
Terimakasih :)

Comments
Post a Comment