Skip to main content

Melihat Jembatan Edukasi, Sebuah Taman Literasi Jebolan Desa Siluk

Ada sebuah pribahasa mengatakan "Jangan tunggu orang lain untuk memulai, jika menjadi pencetus itu sebagai awal untuk memulai".

Pernah dengar pribahasanya? Jika tidak, santai saja. Itu pribahasa yang baru saya buat beberapa detik lalu sebelum memulai tulisan ini. Sudah saya fikirkan mateng-mateng tentang kata-kata itu. Kalau tidak nyambung, harap maklum.

Beberapa waktu lalu, saya sempat berkunjung ke sebuah desa yang terletak di Kabupaten Bantul. Saya sangat mengagumi masyarakat yang memiliki kreatifitas dan inisiatif untuk memulai atau menjadi pencetus sebuah ide yang mendatangkan banyak manfaat bagi yang lainnya.

"Sebaik-baiknya manusia itu yang baik akhlaknya dan paling bermanfaat bagi yang lainnya"

Pernah dengar pribahasa diatas? Jika tidak, anda sungguh terlalu. Saya sering mendengar pribahasa itu, dan berusaha menjadikan sebagai pegangan hidup. Jadi itu bukan pribahasa ngawur seperti diawal tadi.

Kenapa saya menarik pribahasa kedua sebagai pegangan hidup? Karena, kita hidup didunia jika tidak memberikan manfaat kepada siapapun, ya walaupun itu hanya setitik nila, itu sungguh sangat disayangkan.

Kembali saya membahas kreatifitas diatas. Patut kita memberikan pujian bagi kelompok masyarakat yang berada di Desa Siluk, Imogiri, Bantul. Sebuah kolong jembatan yang dulunya kumuh dan tidak ingin ditempati oleh siapapun, kini telah berubah menjadi tempat yang sangat indah dan tempat yang bisa dijadikan pilihan untuk bersantai sambil melakukan kegiatan membaca ditemani gemericik aliran sungai Oya yang jernih dan tenang.

Ide untuk mengubah tempat tersebut datang dari warga sekitar, namanya Mas Kuat. Pria yang berumur kisaran 39 tahun itu yang memiliki inisiatif dan ide kreatif untuk mengubah tempat yang dinilai kumuh beberapa waktu silam lalu, kini telah berubah menjadi tempat yang sangat damai dan tenang.

"Kami menyebutnya dengan Jembatan Edukasi, ini untuk mengajak masyarakat peduli lingkungan, dan mengajak masyarakat gemar membaca," kata Mas Kuat.

Jembatan Edukasi. Itulah namanya.

Namanya saja E-D-U-K-A-S-I (bacanya di eja ya) jelas ada banyak buku-buku untuk memperkuat literasi, kalau namanya Jembatan RATAPAN, ya berarti banyak anak-anak alay yang kongkow disono

Jelas, banyak buku-buku gratis yang disediakan ditempat itu. Dan dipinjamkan secara gratis bagi siapa saja yang hendak ingin menghabiskan waktu ditempat tersebut sambil membaca buku-buku itu. Tua, muda, kecil, besar, cantik, cakep, jelek, opsss, semua boleh.

Memang tidak mudah untuk menjadikan tempat yang saat ini menjadi pilihan tepat untuk bersantai, berbagai macam rintangan halangan yang menerjang, ah lebay! Tapi benar, memang tidak mudah. Musuh utamanya yaitu warga sendiri yang masih gemar dan tidak peduli, selalu saja membuang sampah dan mengotorinya, jahat!

Akan tetapi, masa lalu ya tetaplah masa lalu, biarkan dia pergi secara perlahan, tapi tetap terus diawasi. Jangan sampai, kucing masuk lubang cacing tuk kedua kalinya.

Untuk melancarkan ide-ide itu, para pemuda dan masyarakat yang memiliki visi dan misi positif, dan bersama. Mulailah tempat yang dulunya kumuh, perlahan demi perlahan mulai diubah menjadi tempat yang asyik. Mereka mulai menggalakkan gerakan bersih-bersih sampah di kampung saja.

Dari gerakan bersih-bersih sampah itu, para pemuda ini menyisihkan sampah yang mana yang bisa dijual. Sampah yang bisa dijual itu diuangkan untuk tabungan untuk membangun desa dan tempat itu.

Hingga akhirnya, tempat yang dulunya jelek, kumuh, kotor, bau, pesing bersiliweran, kini menjadi tempat yang sangat tepat dijadikan untuk menghabiskan waktu, ketimbang megang HP sambil mbolak-balik sosmed (yang tidak bermanfaat, kalau bermanfaat, ya monggo) plus belum mandi dari pagi hingga pagi lagi.

Piye? Trimo mundur opo timbang loro ati?

NB: Jembatan edukasi hanya dibuka di hari Sabtu dan Minggu mulai pukul 14.00 hingga 17.00 WIB.

Comments

Popular posts from this blog

Dua Puluh Dua Desember

Fajar yang terlihat jelas dari sela jendela kamar, kemilau cahayanya membuat suasana yang tadi dingin oleh tetesan embun menjadi hangat, ah ternyata embun itu sudah menyatu dengan udara. Pagi ini sangat indah, tak ada mendung yang menyelimuti, semoga hari ini hati bersahabat. Aku mengintip dari balik jendela kamar terlihat daun-daun pepohonan yang ada dihalaman mulai berjatuhan ditanah. Beberapa ekor ayam yang sedang mencari secuil rezekinya dibalik dedaunan dengan penuh semangat. Hati ini terasa damai. "Ibu" Wajahmu secara cepat teringat dibenakku, kusingkapkan selimut yang sedari tadi menempel dengan lembut ditubuhku. Iya, usai subuhan tadi kantukku tak tertahan lagi sampai lupa matahari sudah setinggi jengkal menyinari bumi. Kucoba meraih sebuah album kecil yang baru beberapa bulan dicetak, sengaja aku cetak dua foto setiap foto, satu untuk ibu satu untukku. Foto dibalik layar Hp tak seindah foto yang ada dalam album, rasanya bergerak dan hidup, lupakan itu hanya...

Senja Dipenghujung Tahun

Foto: pecintasendja Senja, aku harap kamu tidak melupakan hari ini. Karena senja hari ini adalah penyambung senja esok hari. Senja, cahayamu hari ini sangat lembut membuat suasana hati penghuni bumi ini bahagia. Senja, jangan malu-malu untuk selalu menampakkan kelembutannmu. Karena, cahayamu memberikan kekuatan kepada malam. Senja, aku harap besok kamu kembali lagi dengan suasana yang baru. Karena aku selalu butuh suasana baru. Senja, jangan bosan-bosan sinari penduduk bumi. Karena sinarmu adalah sebuah pengharapan. Senja, terimakasih tentang ceritamu hari ini. Aku akan tetap menunggu ceritamu nanti. Senja, terimakasih kamu telah meramaikan suasana sore dipenghujung tahun ini, semoga ditahun depan senjamu lebih banyak memancarkan keemasannya di ufuk barat. Sore ini adalah akhir cahaya keemasan lembutmu menyinari kotaku ditahun ini. Esok, jangan lupa untuk menampakkan cahaya lembut keemasanmu sebagai awal perkenalan ditahun yang baru.

Sahabat, Tuhan Lebih Sayang Kepadamu.

"Sahabat, kamu adalah lentera jalan yang melengkapi setiap perjalananku" Di tahun 2001, ada siswa baru masuk kekelas kami. Dia melengkapi meja yang telah kosong dideretan tengah. Jika dijelaskan dengan jelas, dia masih ikatan keluarga. Wajar saja, kelas ini di isi oleh sahabat sepermainan dari kecil. Kami hanya ber enam waktu itu dan ditambah dengan kedatangan satu murid baru. Tak ada siswa selain dari desa kami. Kampung damai kecil dipesisir pantai. Namanya Nur Safaria Zirun, kami semua memanggilnya Zia. Alasan anak itu masuk dikelas kami karena baru saja pindah dari sekolahnya diseberang pulau sana. Mulai dari main bareng, canda bareng. Kebersamaan kami mulai terbangun dengan rapih selama setahun. Tak sampai lulus bersama kami, hanya setahun dia mengenyam kebersamaan bersama kami, entah dia melanjutkan sekolah dikota mana, tak ada kabarpun. Bak hilang ditelan waktu. Aku dan yang lainnya tetap satu sekolah didesa yang sama, sekolah dikota waktu itu hanya...