Skip to main content

Bukan Masalah Harga Tapi Kenangan

Semenjak belum mendudukkan pantat dibangku perkuliahan, keinginan berat untuk memiliki motor Rx-King telah terbersit dibenak. Bagaimana tidak, motor pria yang digadang-gadang sebagai motor 'laki banget' banyak di idam-idamkan oleh kawula pria muda maupun tua untuk dijajalkan dijalanan.

Terlebih, motor Abah dirumah dulunya ya King, belajarnya ya di King plus Econos 100. Ya gitulah, motornya udah ditelan bumi.

Ketika menginjak semester kedua dibangku kuliah, keinginan itu pun mulai terwujud. Motor keluaran tahun 2004 berwarna hijau pekat akhirnya kesampaian juga memilikinya, "Ah, inginnya dimodif" Hati senang bagaikan lagu ciptaan Ibu Sud, "Tuk Tik Tak Tik Tuk Tik Tak suara sepatu kuda". Kalau ngga tau lagunya mending balik lagi ke SD gih!

Memiliki motor yang sudah tidak dilahirkan lagi memang memiliki kekhawatiran tersendiri, bagaimana tidak, kalau motor yang masih dilahirin spare part nya masih banyak dan mudah ditemui. Lah, kalau motornya sudah tua dan nggak keluar lagi bagaimana ngatasinya ? Tak pelak, itu semua sudah saya pertimbangkan secara matang sebelum berencana membeli, mikirnya "Selama masih di Jogja, pasti banyak spare part nya". Ya, tentu saja sasarannya Pasar Klithikan.

Kita lewati itu semua. Diawal memilikinya, ternyata motor tua yang kebanyak besi itu hanya dimiliki dua orang seantero kampus yang katanya lumayan besar itu. Motor saya dan motor pak satpam di fakultasku. Jadi, kalau bunyi nya udah beda dari yang lain, kalau bukan motor saya ya motor pak satpam. Bisa dibedain sama motor-motor matic yang dipake ama cowok-cowok lainnya. Lah, bunyinya aja kalau didengerin ama ibu hamil rasanya pengen mbrojolin tuh bocah.

Pastilah suka duka selama miliki tuh motor pasti ada, mulai masalah biasa ban bocor sampe turun mesin. Bagusnya, motor ini kalau bermasalah hanya dua, kalo nggak businya yang soak, ya oli sampingnya abis (makanya turun mesin). Asalkan olinya diperhatiin aja, jalannya pasti santaii...

Banyak keuntungan sih selama saya make motor ini. Salah satunya, kalau keluar parkiran nggak usah nunjukin stnk atau apalah kek mahasiswa lainnya, tinggal senyumin penjaga parkirnya udah bisa langsung lewat, tapi ya perkenalan dulu lah sebelumnya, basa basi gitu. Masalahnya, tuh motor yang parkir cuman satu sekampus, motor pak satpam nya markir ditempat khusus. Dan intinya, mudah dikenalin oleh kalangan mahasiswa dan yang jagain parkiran kampus.

Sudah beberapa lama, tibalah diakhir kuliah. Bisikan-bisikan tetangga kiri kanan mulai menyerang, kek negara api mau nyerang negara air. Mulai tukang parkir, bapak kos lama, tukang becak, tukang somay, satpam kampus, dan tukang-tukang lainnya pada namawarin (temannya masyarakat sih, bukan pejabat) "Hayoo, mau dijual berapa ne motornya? Kan udah mau kelar kan?".

Awal-awal sih masih nyantai naggepinnya, senyum dikit udah kelar masalah. Lah, ini tiap hari ditawar mulu, agak gimanaaa gitu.

Karena nanyanya udah mulai nekat, terus temen-temen lainnya sepakat ama yang nawar-nawar, ya ta jawab aja.

"Bro!!! Ini bukan masalah harga tapi kenangan"

Oke fix, mau dibawa balik kerumah!

Comments

Popular posts from this blog

Dua Puluh Dua Desember

Fajar yang terlihat jelas dari sela jendela kamar, kemilau cahayanya membuat suasana yang tadi dingin oleh tetesan embun menjadi hangat, ah ternyata embun itu sudah menyatu dengan udara. Pagi ini sangat indah, tak ada mendung yang menyelimuti, semoga hari ini hati bersahabat. Aku mengintip dari balik jendela kamar terlihat daun-daun pepohonan yang ada dihalaman mulai berjatuhan ditanah. Beberapa ekor ayam yang sedang mencari secuil rezekinya dibalik dedaunan dengan penuh semangat. Hati ini terasa damai. "Ibu" Wajahmu secara cepat teringat dibenakku, kusingkapkan selimut yang sedari tadi menempel dengan lembut ditubuhku. Iya, usai subuhan tadi kantukku tak tertahan lagi sampai lupa matahari sudah setinggi jengkal menyinari bumi. Kucoba meraih sebuah album kecil yang baru beberapa bulan dicetak, sengaja aku cetak dua foto setiap foto, satu untuk ibu satu untukku. Foto dibalik layar Hp tak seindah foto yang ada dalam album, rasanya bergerak dan hidup, lupakan itu hanya...

Senja Dipenghujung Tahun

Foto: pecintasendja Senja, aku harap kamu tidak melupakan hari ini. Karena senja hari ini adalah penyambung senja esok hari. Senja, cahayamu hari ini sangat lembut membuat suasana hati penghuni bumi ini bahagia. Senja, jangan malu-malu untuk selalu menampakkan kelembutannmu. Karena, cahayamu memberikan kekuatan kepada malam. Senja, aku harap besok kamu kembali lagi dengan suasana yang baru. Karena aku selalu butuh suasana baru. Senja, jangan bosan-bosan sinari penduduk bumi. Karena sinarmu adalah sebuah pengharapan. Senja, terimakasih tentang ceritamu hari ini. Aku akan tetap menunggu ceritamu nanti. Senja, terimakasih kamu telah meramaikan suasana sore dipenghujung tahun ini, semoga ditahun depan senjamu lebih banyak memancarkan keemasannya di ufuk barat. Sore ini adalah akhir cahaya keemasan lembutmu menyinari kotaku ditahun ini. Esok, jangan lupa untuk menampakkan cahaya lembut keemasanmu sebagai awal perkenalan ditahun yang baru.

Sahabat, Tuhan Lebih Sayang Kepadamu.

"Sahabat, kamu adalah lentera jalan yang melengkapi setiap perjalananku" Di tahun 2001, ada siswa baru masuk kekelas kami. Dia melengkapi meja yang telah kosong dideretan tengah. Jika dijelaskan dengan jelas, dia masih ikatan keluarga. Wajar saja, kelas ini di isi oleh sahabat sepermainan dari kecil. Kami hanya ber enam waktu itu dan ditambah dengan kedatangan satu murid baru. Tak ada siswa selain dari desa kami. Kampung damai kecil dipesisir pantai. Namanya Nur Safaria Zirun, kami semua memanggilnya Zia. Alasan anak itu masuk dikelas kami karena baru saja pindah dari sekolahnya diseberang pulau sana. Mulai dari main bareng, canda bareng. Kebersamaan kami mulai terbangun dengan rapih selama setahun. Tak sampai lulus bersama kami, hanya setahun dia mengenyam kebersamaan bersama kami, entah dia melanjutkan sekolah dikota mana, tak ada kabarpun. Bak hilang ditelan waktu. Aku dan yang lainnya tetap satu sekolah didesa yang sama, sekolah dikota waktu itu hanya...