| Foto: TribunNewsBogor.com |
Sebuah cerita yang datang dari seorang Kiai yang sering berkunjung ke Makkah. Ternyata, kera hidup bukan hanya berada di hutan. Kera yang hidup dipadang pasir pun juga terbilang banyak, tidak kalah dengan yang hidup dihutan.
Bahkan, bulu-bulu kera tersebut terbilang memiliki lebih banyak bulu ketimbang kera-kera yang sering kita jumpai di hutan-hutan Indonesia. Posturnya pun lebih besar.
Namun, kera-kera padang pasir terlihat lebih jinak dari kera-kera pada umumnya. Mereka pun ramah kepada para musafir yang selalu singgah untuk memberikan makanan kepada mereka.
Tak pelak, walaupun jinak, banyak musafir yang masih terlihat takut jika tidak bersama orang banyak saat berada disekeliling kumpulan kera yang menunggu pembagian makanan dari para musafir.
Menariknya dalam kehidupan kera di padang pasir. Kera-kera besar selalu menang dari kera-kera kecil dalam hal berebut makanan. Kera-kera besar tak akan memberikan kesempatan bagi kera-kera kecil jika belum merasa kenyang melahap makanan. Tidak jarang pula, makanan kera-kera kecil selalu diambil secara paksa oleh kera-kera besar. Sampai mereka merasa kenyang dan tidak membutuhkannya lagi.
Uniknya, setelah merasa kenyang, kera-kera besar pun beranjak pergi dari tempat tersebut dan mempersilahkan kera-kera kecil untuk menyantap makanan yang masih tersisa. Kera-kera besar itupun hanya mengambil makanan yang secukupnya hingga mereka merasa sudah tidak membutuhkannya lagi alias kekenyangan.
Pelajaran yang mampu ditarik dalam cerita tersebut. Kera-kera besar itu lebih terlihat sangat mulia dari pada Manusia yang notabene memiliki akal dan fikiran akan tetapi masih saja rakus mengupulkan harta sebanyak-banyaknya. Padahal, jika difikir, kekayaan yang telah mereka miliki itu sudah sangat mencukupi untuk dirinya sendiri dan keluarganya, bahkan sangat cukup jika dibagi-bagikan kepada tetangga atau orang lain yang sangat membutuhkan.
Kera padang pasir, jika sudah merasa kenyang maka akan mempersilahkan kera lainnya untuk mendapatkan makanan. Akan tetapi, sebagian manusia yang memiliki sifat serakah tidak memikirkan itu, bahkan akan mengambil hak-hak orang lain walaupun itu secara paksa.
Inti dalam kisah tersebut, manusia sekalipun menyebut dirinya memiliki jiwa keprimanusaan ternyata perilakunya tidak lebih mulia dari pada kera padang pasir. Kera-kera padang pasir lebih memiliki akhlak dan jiwa kemanusiaannya ketimbang sebagian manusia yang serakah dan tamak.
Cerita ter-ilhami dari buku Prof. Dr. Imam Suprayogo, M.Si. Berjudul "Masyarakat Tanpa Rangking"
Comments
Post a Comment