"Boy, mau ikut lihat tradisi Kraton nggak?" kata teman yang umurnya terpaut jauh dari saya. Tidak ada pilihan lain, selain kata "Iya".
Selepas maghrib berlalu, saya pun beranjak mengikuti ajakannya. Difikiran saya, paling itu hanya tradisi yang ada beberapa kali sepanjang tahun, seperti grebeg gunungan Keraton dan sudah sering saya ikuti. Setiba kami dihalaman Bangsal Ponconiti, Keben Keraton, ternyata acaranya belum dimulai. Setelah mencari informasi sana-sini, acara tradisi tersebut dimulai hampir larut malam. Saking penasarannya, selarut apapun harus saya ikuti.
Tambah larut, masyarakat dan abdi dalem Keraton mulai memadati halaman ponconiti. Kurang lebih pukul 20.00 WIB, kegiatan tersebut berangsur-angsur dimulai dengan diawali ritual do'a bersama.
Ternyata, tradisi yang dimaksud teman saya adalah perayaan malam 1 Suro (dalam penanggalan Jawa). Sebuah tradisi dalam menyambut awal tahun penanggalan Jawa yang telah ada semenjak Sultan Hamengkubuwono II (kalau salah, saya minta dikoreksi) yaitu Topo Bisu Mubeng Beteng. Seorang yang tidak terlahir di Jawa apalagi Yogyakarta, saya masih kurang faham dan awam dengan ritual seperti itu.
Teman saya dengan senang hati mulai menjelaskan. Topo Bisu Mubeng Beteng, yaitu sebuah ritual mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta sambil berjalan kaki. Selama melakukan ritual tersebut, siapapun yang mengikutinya ternyata memiliki larangan tertentu, yaitu dilarang berbicara. Selama ritual berlangsung, para peserta ritual tersebut dianjurkan untuk selalu berdo'a dalam hati masing-masing (sesuai keinginan).
Hadir dua putri Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk melepas para peserta mubeng beteng. Yaitu, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi (putri sulung) dan adiknya Gusti Kanjeng Ratu Condrokirono (anak kedua).
GKR Mangkubumi yang sempat memberikan sedikit wejangan kepada para peserta tersebut, sangat berterimakasih kepada seluruh masyarakat yang sampai saat ini tetap melestarikan lampah budaya yang telah ada sejak ratusan tahun lalu.
Dengan adanya tradisi tersebut, diharapkan agar bisa dijadikan sebagai sarana bagi masyarakat luas maupun abdi dalem untuk selalu melakukan instrospeksi diri agar tali persaudaraan tetap kuat, erat dan selalu terjaga, begitupula kekompakannya.
Puncak ritual itu dimulai dari Bangsal Ponconiti, Keben Keraton, pada pukul 00:00 WIB. Sebelum berjalan, para peserta mubeng beteng langsung bergerak begitu lonceng Brojonolo yang ada di halaman Keben Keraton berdentang sebanyak 12 kali. Dan akan berjalan kurang lebih sejauh 5 kilometer.
Setelah wejangan tersebut usai, semua peserta mubeng beteng mulai bergerak berjalan mengelilingi benteng Keraton. Terlihat, para abdi dalem yang berada dibarisan terdepan membawa beberapa bendera mulai dari bendera merah putih hingga bendera lambang-lambang satuan unit Ketaton. Perjalanan yang hikmat tersebut kurang lebih berlangsung selama dua jam.
Peserta ritual Tapa Bisu Mubeng Benteng berjalan dengan rute mengelilingi empat penjuru beteng. Beteng atau benteng dalam bahasa Indonesia adalah batas yang menutupi kawasan Keraton Yogyakarta dengan wilayah di luarnya.
Rute itu dimulai dari Keben Keraton menuju Jalan Retowijayan, Jalan Kauman, Jalan Agus Salim, Jalan Wahid Hasyim, hingga Pojok Beteng Kulon, Jalan Mayjen M.T. Haryono sampai Pojok Benteng Wetan, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Ibu Ruswo, Alun-Alun Utara, dan berakhir di Keben Keraton.
Setelah menyaksikannya secara langsung, saya pun tidak habis fikir, selama enam tahun menetap di Kota Yogyakarta, baru kali ini mengikuti dan menyaksikan langsung sebuah tradisi yang telah dilestarikan selama turun-temurun hingga ratusan tahun oleh keluarga dan masyarakat Keraton Yogyakarta.


Wah, saya bolak-balik ke Yogyakarta, bahkan punya banyak saudara di Yogyakarta. Tapi, baru kali ini saya tahu ada tradisi mengelilingi beteng sambil membisu. Wow, bertambah deh ilmu saya.
ReplyDelete