Skip to main content

Tahukah Siapa Diri Kita ?


Orang-orang dengan sangat mudah mengenali sikap dan pribadi orang lain tapi tidak menuntut kemungkinan kita dapat menilai diri kita sendiri. Banyak sekali orang-orang yang selalu menganggap dirinyalah yang paling benar dan paling sempurna, padahal untuk mengetahui sikap dan pribadi dirinya hanya dapat diketahui dengan penilaian orang lain atau alat yang bisa mendeteksi sikap seseorang itupun belum tentu tepat. 

Contoh kecilnya dalam menggunakan pakaian, ketika kita menggunakan pakaian yang menurut kita sudah layak kita pakai tapi belum tentu dimata orang yang melihat kita sudah cocok pada diri kita.

Contoh lainnya yang dapat kita rasakan adalah ketika masa pemilu menjelang datang diwaktu yang sudah ditentukan, banyak dari sebagaian orang yang ingin menjadi wakil-wakil rakyat sebagai Kepala Desa, Camat, Bupati, Anggota DPD/DPR, Wali Kota, Gubernur, dengan percaya dirinya akan potensi yang dimilikinya, dengan bermodalkan dapat mengenali siapa diri dia sebenarnya dan mereka mencetak pamflet-pamflet dengan menjanjikan sesuatu untuk perubahan yang notabene belum tentu dapat mereka realisasikan.

Percaya diri memang boleh-boleh saja, asalkan dapat mengetahui batas yang dapat mereka lakukan, kalau saja semua orang memiliki prinsip percaya diri mereka tinggi tanpa ada bukti yang dapat mereka berikan kepada masyarakat ataupun orang-orang disekitar mereka, mengerti birokrasi pemerintahan saja tidak, kemana mereka akan bawa rakyat ini ? 

Jangan sampai mereka sudah terpilih dengan hanya bermodalkan percaya diri dan uang yang banyak, ujung-ujung nya bukan hasil kerja keras untuk masyarakat yang mereka dapatkan melainkan KORUPSI dimana-mana, menggelapkan dana APBN, bukan nama baik yang akan mereka dapatkan melainkan jeruji besi yang menunggu mereka didepan gerbang kehidupan selanjutnya.

Dalam menilai diri sendiri tidak cukup dengan bercermin didepan kaca, melainkan harus ada orang yang dapat menilai sikap dan kepribadian kita, agar kita tidak tersesat dengan kata Percaya Diri. "Sebaik-baiknya orang adalah yang baik akhlaknya dan bermanfaat bagi orang lain"

Tulisan ini di ilhami oleh salah satu buku terlaris, hanya saja saya lupa nama bukunya. Mohon maaf...

Comments

Popular posts from this blog

Dua Puluh Dua Desember

Fajar yang terlihat jelas dari sela jendela kamar, kemilau cahayanya membuat suasana yang tadi dingin oleh tetesan embun menjadi hangat, ah ternyata embun itu sudah menyatu dengan udara. Pagi ini sangat indah, tak ada mendung yang menyelimuti, semoga hari ini hati bersahabat. Aku mengintip dari balik jendela kamar terlihat daun-daun pepohonan yang ada dihalaman mulai berjatuhan ditanah. Beberapa ekor ayam yang sedang mencari secuil rezekinya dibalik dedaunan dengan penuh semangat. Hati ini terasa damai. "Ibu" Wajahmu secara cepat teringat dibenakku, kusingkapkan selimut yang sedari tadi menempel dengan lembut ditubuhku. Iya, usai subuhan tadi kantukku tak tertahan lagi sampai lupa matahari sudah setinggi jengkal menyinari bumi. Kucoba meraih sebuah album kecil yang baru beberapa bulan dicetak, sengaja aku cetak dua foto setiap foto, satu untuk ibu satu untukku. Foto dibalik layar Hp tak seindah foto yang ada dalam album, rasanya bergerak dan hidup, lupakan itu hanya...

Senja Dipenghujung Tahun

Foto: pecintasendja Senja, aku harap kamu tidak melupakan hari ini. Karena senja hari ini adalah penyambung senja esok hari. Senja, cahayamu hari ini sangat lembut membuat suasana hati penghuni bumi ini bahagia. Senja, jangan malu-malu untuk selalu menampakkan kelembutannmu. Karena, cahayamu memberikan kekuatan kepada malam. Senja, aku harap besok kamu kembali lagi dengan suasana yang baru. Karena aku selalu butuh suasana baru. Senja, jangan bosan-bosan sinari penduduk bumi. Karena sinarmu adalah sebuah pengharapan. Senja, terimakasih tentang ceritamu hari ini. Aku akan tetap menunggu ceritamu nanti. Senja, terimakasih kamu telah meramaikan suasana sore dipenghujung tahun ini, semoga ditahun depan senjamu lebih banyak memancarkan keemasannya di ufuk barat. Sore ini adalah akhir cahaya keemasan lembutmu menyinari kotaku ditahun ini. Esok, jangan lupa untuk menampakkan cahaya lembut keemasanmu sebagai awal perkenalan ditahun yang baru.

Sahabat, Tuhan Lebih Sayang Kepadamu.

"Sahabat, kamu adalah lentera jalan yang melengkapi setiap perjalananku" Di tahun 2001, ada siswa baru masuk kekelas kami. Dia melengkapi meja yang telah kosong dideretan tengah. Jika dijelaskan dengan jelas, dia masih ikatan keluarga. Wajar saja, kelas ini di isi oleh sahabat sepermainan dari kecil. Kami hanya ber enam waktu itu dan ditambah dengan kedatangan satu murid baru. Tak ada siswa selain dari desa kami. Kampung damai kecil dipesisir pantai. Namanya Nur Safaria Zirun, kami semua memanggilnya Zia. Alasan anak itu masuk dikelas kami karena baru saja pindah dari sekolahnya diseberang pulau sana. Mulai dari main bareng, canda bareng. Kebersamaan kami mulai terbangun dengan rapih selama setahun. Tak sampai lulus bersama kami, hanya setahun dia mengenyam kebersamaan bersama kami, entah dia melanjutkan sekolah dikota mana, tak ada kabarpun. Bak hilang ditelan waktu. Aku dan yang lainnya tetap satu sekolah didesa yang sama, sekolah dikota waktu itu hanya...