Deburan ombak kala itu telah menerpa pesisir pantai dengan sangat kuat, musim ombak pada bulan-bulan di awal tahun ini memang sangat keras dan tidak bersahabat. Ketika bulan maret tiba, suasana laut sedang kacau, para nelayan yang kesehariannya kelaut lepas akan di urungkan untuk beberapa saat. Kapal-kapal yang membawa mereka ke laut lepas, untuk sementara akan mereka sandarkan di pesisir pantai, dan beristirahat di rumah, bercanda gurau dengan keluarga dan tetangga.
Sesosok manusia yang sedang menunggu waktu akan di lahirkan di muka bumi. Setelah 9 bulan berada di dalam kandungan seorang ibu yang sangat menyayanginya, perjalanan akan baru di mulai, ketika seorang anak itu telah lahir di muka bumi. Sabtu tanggal 6 maret di awal tahun, satu lagi ciptaan Tuhan telah lahir, dan akan memberikan harapan untuk masa yang akan datang, kepada orang tuanya yang telah melahirkannya.
Segenap do’a yang selalu mereka panjatkan untuk kebaikan sang anak, yang telah lahir. Bersyukurlah, seorang anak yang telah lahir di tengah-tengah keluarga yang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang, yang selalu akan menjaganya walaupun angin syahdu tersebut menyentuh kulit mungil sang bayi. Pantaskah, seorang anak tersebut durhaka kepada orang tua yang telah mengandungnya selama 9 bulan, melahirkannya dan membesarkannya sampai dewasa.
Suara tangis seorang bayi, memecahkan suasana sore yang hangat kala itu, sujud syukur seorang bapak yang tak terhingga telah ia panjatkan kepada sang pencipta, istri dan anaknya dalam keadaan sehat wal afiat, dan suara adzan pun berkumandang di telinga sang bayi.
“Allahu Akbar... Allahu Akbar...” lantunan adzan terdengar dari suara sang bapak, dengan tegas dan merdu untuk di dengarkan di telinga.
Sanak kelurga, yang saat itu tengah menunggu kelahiran bayi itu, sangat bergembira, ketika anak kedua dari seorang bapak dan ibu itu lahir dimuka bumi. Dengan harapan, anak ini kelak akan memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarga dan orang lain.

Comments
Post a Comment